Senin, 13 November 2017

Imam Ali bin Abi Thalib Ra. Merumuskan cara memperlakukan anak

Imam Ali bin Abi Thalib Ra. Merumuskan cara memperlakukan anak:

1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.

2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.

3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

►ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)

Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya:
Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketka kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.

Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.

Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.

Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.

►ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)

Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat, Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak bagi seorang anak untuk diberika hak dan kewajiban tertentu.

Rasulullah SAW mulai memerintahkan seoang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut (atau mengukum dengan hukuman seperlunya) ketika iIa telah berusia 10 tahun namun meninggalkan sholat. Karena itu usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang, seperti:

1. Melakukan sholat wajib 5 waktu
2. Memakai pakaian yang bersih, rapih dan menutup aurat
3. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis
4. Membiasakan membaca Al-Qur’an
5. Membantu pekerjaan rumah tanngga yang mudah dikerjakan oleh anak susianya
6. Menerapkan kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari Reward dan punishment (hadiah/penghargaan/ pujian dan hukuman/teguran) akan sangat pas diberlakukan pada usia 7 tahun kedua ini, karena anak sudah bisa memahami arti dari tanggung jawab dan konsekuaensi.

Namun demikian, perlakuan pada setiap anak tidak harus sama kerena every child is unique (setiap anak itu unik)

►ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)

Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah.
Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.

Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akanditayangkan da diminta pertanggung jawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Memberi Ruang Lebih Setelah measuki usia akil Baligh, anak perlu memiliki ruang agar tidakmerasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita.

Controlling tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdo’a untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih beratdan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.

Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola keuangannya sendiri.
Semoga Allah memberikan kita anak-anak yang shaleh dan berbakti.

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).

Sumber: FP Alhabib Quraisy Baharun

Sabtu, 11 November 2017

Mutiara pagi

Sejenak Pagi:

Jangan pernah mengasihani diri sendiri karena akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan.

Dengan menolong orang lain sesungguhnya kita sedang menolong diri sendiri.

"Hati yang gembira adalah obat yang manjur"

"Menyenangkan orang lain, akan membuat kita Bahagia"

Melihat keatas memperoleh semangat utk maju.

Melihat kebawah Bersyukur atas semua yg Ada.

Melihat kesamping Semangat Kebersamaan.

Melihat kebelakang sebagai Pengalaman Berharga.

Melihat ke dalam untuk Intropeksi.

Melihat ke depan untuk *MENJADI LEBIH BAIK*

Awali pagi dengan
*NIAT & BERDOA.............*

Jalani dengan
*BERUSAHA........*

Akhiri dengan 
*BERSYUKUR & TAWAKAL......*

Bahagia ......
Secukupnya

Sedih ..........
Seperlunya

Mencintai .........
Sewajarnya

*TAPI.........*
*BERSYUKURLAH SELALU*

Semoga menjadi lebih dan lebih bermanfaat.
*Robbana Taqobbal Minna*
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

Senin, 06 November 2017

💦Khasiat Infused Water ❣🍷💦

1. Memulihkan tubuh
2. Mengobati Kolesterol
3. Anti Sembelit & diare
4. Kaya zat besi mencegah anemia
5. Menjaga kesehatan jantung
6. Meringankan masalah pencernaan
7. Kaya energi
8. Meningkatkan stamina
9. Mencegah gigi berlubang
10. Meningkatkan penglihatan
11. Mencegah rabun senja
12. Penetralisir tubuh
13. Menjaga tekanan darah
14. Menjaga berat badan
15. Mengobati diabetes

Jumat, 13 Oktober 2017

Struktur, Fungsi dan Sirkulasi Tali Pusat

Pengertian

Tali pusat atau funiculus umbilicalis adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama kehamilan menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi begitu bayi lahir, saluran ini sudah tak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit.

¥ Letak : Funiculus umbilicalis terbentang dari permukaan fetal plasenta sampai daerah umbilicus fetus dan berlanjut sebagai kulit fetus pada perbatasan tersebut. Funiculus umbicalis secara normal berinsersi di bagian tengah plasenta.

¥ Bentuk : Funiculus umbilicalis berbentuk seperti tali yang memanjang dari tengah plasenta sampai ke umbilicus fetus dan mempunyai sekitar 40 puntiran spiral.

¥ Ukuran : Pada saat aterm funiculus umbilicalis panjangnya 40-50 cm dan diameternya 1-2 cm. Hal ini cukup untuk kelahiran bayi tanpa menarik plasenta keluar dari rahim ibu. Tali pusat menjadi lebih panjang jika jumlah air ketuban pada kehamilan trimester pertama dan kedua relatif banyak, diserta dengan mobilitas bayi yang sering. Sebaliknya, jika oligohidromnion dan janin kurang gerak (pada kelainan motorik janin), maka umumnya tali pusat lebih pendek. Kerugian apabila tali pusat terlalu panjang adalah dapat terjadi lilitan di sekitar leher atau tubuh janin atau menjadi ikatan yang dapat menyebabkan oklusi pembuluh darah khususnya pada saat persalinan.

2.2 Stuktur Tali Pusat
¥ Amnion : Menutupi funiculus umbicalis dan merupakan lanjutan amnion yang menutupi permukaan fetal plasenta. Pada ujung fetal amnion melanjutkan diri dengan kulit yang menutupi abdomen. Baik kulit maupun membran amnion berasal dari ektoderm.
¥ Tiga pembuluh darah : Setelah struktur lengkung usus, yolk sack dan duktus vitellinus menghilang, tali pusat akhirnya hanya mengandung pembuluh darah umbilikal yang menghubungkan sirkulasi janin dengan plasenta. Ketiga pembuluh darah itu saling berpilin di dalam funiculus umbilicalis dan melanjutkan sebagai pembuluh darah kecil pada vili korion plasenta. Kekuatan aliran darah (kurang lebih 400 ml/ menit) dalam tali pusat membantu mempertahankan tali pusat dalam posisi relatif lurus dan mencegah terbelitnya tali pusat tersebut ketika janin bergerak-gerak. Ketiga pembuluh darah tersebut yaitu :
- Satu vena umbilicalis membawa oksigen dan memberi nutrien ke sistem peredaran darah fetus dari darah maternal yang terletak di dalam spatium choriodeciduale.
- Dua arteri umbilicalis mengembalikan produk sisa (limbah) dari fetus ke plasenta dimana produk sisa tersebut diasimilasi ke dalam peredaran darah maternal untuk di ekskresikan.
¥ Jeli Wharton : Merupakan zat yang berkonsistensi lengket yang mengelilingi pembuluh darah pada funiculus umbilicalis. Jeli Warthon merupakan subtansi seperti jeli, juga berasal dari mesoderm seperti halnya pembuluh darah. Jeli ini melindungi pembuluh darah tersebut terhadap kompresi, sehingga pemberian makanan yang kontinyu untuk janin dapat di jamin. Selain itu juga dapat membantu mencegah penekukan tali pusat. Jeli warthon ini akan mengembang jika terkena udara. Jeli Warthon ini kadang-kadang terkumpul sebagai gempalan kecil dan membentuk simpul palsu di dalam funiculus umbilicalis. Jumlah jeli inilah yang menyebabkan funiculus umbilicalis menjadi tebal atau tipis.

2.3 Fungsi Tali Pusat
Fungsi tali pusat yaitu :
¥ Sebagai saluran yang menghubungkan antara plasenta dan bagian tubuh janin sehingga janin mendapat asupan oksigen, makanan dan antibodi dari ibu yang sebelumnya diterima terlebih dahulu oleh plasenta melalui vena umbilicalis.
¥ Saluran pertukaran bahan-bahan kumuh seperti urea dan gas karbon dioksida yang akan meresap keluar melalui arteri umbilicalis.

2.4 Sirkulasi Tali Pusat
Fetus yang sedang membesar di dalam uterus ibu mempunyai dua keperluan yang sangat penting dan harus dipenuhi, yaitu bekalan oksigen dan nutrien serta penyingkiran bahan kumuh yang dihasilkan oleh sel-selnya. Jika keperluan ini tidak dapat dipenuhi, fetus akan menghadapi masalah dan mungkin maut. Struktur yang bertanggung jawab untuk memenuhi keperluan fetus ialah plasenta. Plasenta yang terdiri daripada tisu fetus dan tisu ibu terbentuk dengan lengkapnya pada ujung minggu yang ke-16 kehamilan.
Pada plasenta banyak terdapat unjuran seperti “Jari” atau vilus tumbuh dari membran yang menyelimuti fetus dan menembusi dinding uterus, yaitu endometrium. Endometrium pada uterus adalah kaya dengan aliran darah ibu. Di dalarn vilus terdapat jaringan kapilari darah fetus. Darah yang kaya dengan oksigen dan nutrien ini dibawa melalui vena umbilicalis yang terdapat di dalam tali pusat ke fetus. Sebaliknya, darah yang sampai ke vilus dari fetus melalui arteri umbilicalis dalam tali pusat mengandungi bahan kumuh seperti karbon dioksida dan urea. Bahan kumuh ini akan meresap merentas membran dan memasuki darah ibu yang terdapat di sekeliling vilus. Pertukaran oksigen, nutrien, dan bahan kumuh lazimnya berlaku melalui proses resapan. Dengan cara ini, keperluan bayi dapat dipenuhi.
Walaupun darah ibu dan darah fetus dalam vilus adalah begitu rapat, tetapi kedua-dua darah tidak bercampur kerana dipisahkan oleh suatu membran. Oksigen, air, glukosa, asid amino, lipid, garam mineral, vitamin, hormon, dan antibodi dari darah ibu perlu menembus membran ini dan memasuki kapilari darah fetus yang terdapat dalam vilus. Selain oksigen dan nutrien, antibodi dari darah ibu juga meresap ke dalarn darah fetus melalui plasenta. Antibodi ini melindungi fetus dan bayi yang dilahirkan daripada jangkitan penyakit.

2.5 Kelainan Letak Tali Pusat
Tali pusat secara normal berinsersi di bagian sentral ke dalam permukaan fetal plasenta. Namun, ada beberapa yang memiliki kelainan letak seperti :
1. Insersi tali pusat Battledore ® Pada kasus ini tali pusat terhubung ke palin pinggir plasenta seperti bentuk bet tenis meja. Kondisi ini tidak bermasalah kecuali sambungannya rapuh.
2. Insersi tali pusat Velamentous ® Tali pusat berinsersi ke dalam membran agak jauh dari pinggir plasenta. Pembuluh darah umbilikus melewati membran mulai dari tali pusat ke plasenta. Bila letak plasenta normal, tidak berbahaya untuk janin, tetapi tali pusat dapat terputus bila dilakukan tarikan pada penanganan aktif di kala tiga persalinan.

2.6 Pemotongan Tali Pusat
Pemotongan tali pusat menurut standar asuhan persalinan normal pada langkah ke 26 sampai dengan 28 berikut ini :
a) Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali tali pusat.
b) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari umbilikus bayi.
c) Melakukan urutan pada tali pusat kearah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama.
d) Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan tangan kiri, dengan perlindungan jari-jari tangan kiri, memotong tali pusat diantara kedua klem. (JNPKR, Depkes RI, 2004).
Sisa potongan tali pusat pada bayi inilah yang harus dirawat, karena jika tidak dirawat maka dapat menyebabkan terjadinya infeksi.

2.7 Fisiologi Lepasnya Tali Pusat
Perawatan tali pusat secara intensif diperkenalkan pada tahun 1950an sampai dengan tahun 1960an dimana pada saat itu angka infeksi pada proses kebidanan sangat tinggi. Akan tetapi pada beberapa Negara berkembang masih sering dijumpai terjadinya infeksi tali pusat walaupun antiseptic jenis baru telah diperkenalkan. Selain infeksi, pendarahan pada tali pusat juga dapat berakibat fatal. Akan tetapi pendarahan dapat dicegah dengan melakukan penjepitan tali pusat dengan kuat dan pencegahan infeksi. Peralatan yang digunakan dalam pemotongan tali pusat juga sangat berpengaruh dalam timbulnya penyulit pada tali pusat. Saat dipotong tali pusat terlepas dari suply darah dari ibu.
Tali pusat yang menempel pada pusat bayi lama kelamaan akan kering dan terlepas. Pengeringan dan pemisahan tali pusat sangat dipengaruhi oleh aliran udara yang mengenainya. Jaringan pada sisa tali pusat dapat dijadikan tempat koloni oleh bakteri terutama jika dibiarkan lembab dan kotor. Sisa potongan tali pusat menjadi sebab utama terjadinya infeksi pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat dicegah dengan membiarkan tali pusat kering dan bersih. Tali pusat dijadikan tempat koloni bakteri yang berasal dari lingkungan sekitar. Pada bayi yang dirawat di rumah sakit bakteri Streptococcus aureus adalah bakteri yang sering dijumpai yang berasal dari sentuhan perawat bayi yang tidak steril. Pengetahuan tentang faktor yang menyebabkan terjadinya kolonisasi bakteri pada tali pusat sampai saat ini belum diketahui pasti. Selain Streptococcus aerus, bakteri Escheseria colli juga sering dijumpai berkoloni pada tali pusat.
Pemisahan yang terjadi antara pusat dan tali pusat dapat disebabkan oleh keringnya tali pusat atau diakibatkan oleh terjadinya inflamasi karena terjadi infeksi bakteri. Pada proses pemisahan secara normal jaringan yang tertinggal sangat sedikit, sedangkan pemisahan yang diakibatkan oleh infeksi masih menyisakan jaringan dalam jumlah banyak yang disertai dengan timbulnya abdomen pada kulit.

2.8 Perawatan Tali Pusat
Perawatan adalah proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan, penyelenggaraan (Kamisa, 1997). Perawatan tali pusat tersebut sebenarnya juga sederhana. Hal yang paling terpenting dalam membersihkan tali pusat adalah :
o Pastikan tali pusat dan area sekelilingnya selalu bersih dan kering.
o Selalu cuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun sebelum membersihkan tali pusat.
o Selama belum tali pusatnya puput, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara dicelupkan ke dalam air. Cukup dilap saja dengan air hangat. Alasannya, untuk menjaga tali pusat tetap kering. Bagian yang harus selalu dibersihkan adalah pangkal tali pusat, bukan atasnya. Untuk membersihkan pangkal ini, Anda harus sedikit mengangkat (bukan menarik) tali pusat. Tali pusat harus dibersihkan sedikitnya dua kali dalam sehari.
o Tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi. Kalaupun terpaksa ditutup tutup atau ikat dengan longgar pada bagian atas tali pusat dengan kain kasa steril. Pastikan bagian pangkal tali pusat dapat terkena udara dengan leluasa.

2.9 Lama waktu Terlepasnya Tali Pusat
Tali pusat orok berwarna kebiru-biruan dan panjang sekitar 2,5 – 5 cm segera setelah dipotong. Penjepit tali pusat digunakan untuk menghentikan perdarahan. Penjepit tali pusat ini dibuang ketika tali pusat sudah kering, biasanya sebelum ke luar dari rumah sakit atau dalam waktu dua puluh empat jam hingga empat puluh delapan jam setelah lahir. Sisa tali pusat yang masih menempel di perut bayi (umbilical stump), akan mengering dan biasanya akan terlepas sendiri dalam waktu 1-3 minggu, meskipun ada juga yang baru lepas setelah 4 minggu.
Tali pusat sebaiknya dibiarkan lepas dengan sendirinya. Jangan memegang-megang atau bahkan menariknya. Bila tali pusat belum juga puput setelah 4 minggu, atau adanya tanda-tanda infeksi, seperti; pangkal tali pusat dan daerah sekitarnya berwarna merah, keluar cairan yang berbau, ada darah yang keluar terus- menerus, bayi demam tanpa sebab yang jelas maka kondisi tersebut menandakan munculnya penyulit pada neonatus yang disebabkan oleh tali pusat.
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Lamanya Lepasnya Tali Pusat
Lepasnya tali pusat dipengaruhi oleh beberapa ha diantaranya adalah :
1. Timbulnya infeksi pada tali pusat ® disebabkan karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan, misalnya pemotongan tali pusat dengan bambu/ gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusat dibubuhi abu, tanah, minyak, daun-daunan, kopi dan sebagainya.
2. Cara perawatan tali pusat ® penelitian menunjukkan bahwa tali pusat yang dibersihkan dengan air dan sabun cenderung lebih cepat puput (lepas) daripada tali pusat yang dibersihkan dengan alkohol.
3. Kelembaban tali pusat ® tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi.
4. Kondisi sanitasi lingkungan sekitar neonatus ® Spora C. tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.

3.0 Lilitan tali pusat pada janin
Janin terlilit tali pusat, sebenarnya tidak begitu membahayakan. Tapi kenyataannya ada janin meninggal saat persalinan karena terlilit tali pusat.
Menurut Dr. Nining Haniyanti, SpOG sebenarnya lilitan tali pusat di leher tidak selalu membahayakan janin. Lilitan tali pusat di leher dijumpai pada sekitar 20% dari persalinan normal. Sedangkan lilitan tali pusat dua kali di leher, dijumpai pada 2,5% persalinan dan hanya 0,2% kejadian lilitan tali pusat tiga kali di leher.
ý Penyebab
Adanya lilitan tali pusat di leher dalam kehamilan menurutnya, pada umumnya tidak menimbulkan masalah. Namun dalam proses persalinan dimana mulai timbul kontraksi rahim dan kepala janin mulai turun dan memasuki rongga panggul, maka lilitan tali pusat menjadi semakin erat dan menyebabkan penekanan atau kompresi pada pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya, suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan ke janin akan berkurang, yang mengakibatkan janin menjadi sesak atau hipoksia. Kemungkinan sebab lilitan tali pusat pada janin :
ü Usia kehamilan ® Kematian bayi pada trimester pertama atau kedua sering disebabkan karena puntiran tali pusat secara berulang-ulang ke satu arah. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui tali pusat tersumbat total. Karena dalam usia kehamilan tersebut umumnya bayi masih bergerak dengan bebas. Hal tersebut menyebabkan kompresi tali pusat sehingga janin mengalami kekurangan oksigen.
ü Polihidramnion kemungkinan bayi terlilit tali pusat semakin meningkat.
ü Panjangnya tali pusat ® dapat menyebabkan bayi terlilit. Panjang tali pusat bayi rata-rata 50 sampai 60 cm. Namun, tiap bayi mempunyai panjang tali pusat berbeda-beda. Panjang pendeknya tali pusat tidak berpengaruh terhadap kesehatan bayi, selama sirkulasi darah dari ibu ke janin melalui tali pusat tidak terhambat.
ý Tanda-Tanda Bayi Terlilit Tali Pusat :
Beberapa hal yang menandai bayi terlilit tali pusat, yaitu:
· Pada bayi dengan usia kehamilan lebih dari 34 minggu, namun bagian terendah janin (kepala atau bokong) belum memasuki pintu atas panggul perlu dicurigai adanya lilitan tali pusat.
· Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha untuk memutar janin (Versi luar/knee chest position) perlu dicurigai pula adanya lilitan tali pusat.
· Dalam kehamilan dengan pemeriksaan USG khususnya color doppler dan USG 3 dimensi dapat dipastikan adanya lilitan tali pusat.
· Dalam proses persalinan pada bayi dengan lilitan tali pusat yang erat, umumnya dapat dijumpai dengan tanda penurunan detak jantung janin di bawah normal, terutama pada saat kontraksi rahim.
ý Penatalaksaan
Jika bayi terlilit tali pusat, maka harus segera diambil keputusan yang tepat untuk tetap melanjutkan proses persalinan yaitu dengan memberikan oksigen pada ibu dalam posisi miring. Namun, bila persalinan masih akan berlangsung lama dan detak jantung janin semakin lambat (bradikardia), persalinan harus segera diakhiri dengan tindakan operasi Cesar.
Sebenarnya bantuan USG, hanya dapat melihat adanya gambaran tali pusat di sekitar leher. Namun, tidak dapat dipastikan sepenuhnya bahwa tali pusat tersebut melilit leher janin atau tidak. Apalagi untuk menilai erat atau tidaknya lilitan. Dapat saja tali pusat tersebut hanya berjalan di samping leher bayi. Namun, dengan USG berwarna (collor dopper) atau USG 3 dimensi, kita dapat lebih memastikan tali pusat tersebut melilit atau tidak di leher janin, serta menilai erat tidaknya lilitan tersebut.

Sabtu, 09 September 2017

Meraih Keberkahan Melalui Bangun Pagi

Oleh Bendri Jaisyurrahman

Salah satu doa yang diminta Rasulullah di waktu pagi “Ya Allah BERKAHilah umatku di pagi harinya.” BERKAH oleh para ulama diartikan sebagai ‘ziyadatul khair’ atau bertambahnya kebaikan. Orang yang hidupnya berkah, maka kebaikan tambah.

Jika dia bekerja, maka pekerjaannya tambah baik. Rizki yang terkumpul juga baik. Bertemu dengan orang-orang baik. Semuanya baik.

Jika ia memohon tuk nikah, maka dapat jodoh yang baik, waktu yang baik, cara yang baik, beroleh keturunan yang baik. Lagi-lagi segalanya baik, jika BERKAH.

Nah, keberkahan itu didoakan Rasul didapat di waktu pagi. Maka, orang-orang yang ingin mendapatkan yang baik-baik, manfaatkanlah waktu.

Lakukan segalanya di pagi hari. Cari rezki, mulai dari pagi. Cari jodoh, mulai dari pagi. Kalau perlu akad nikahnya di pagi hari.

Jika akad nikah dimulai dari pagi, bayangkan siapa yang mendoakan yang hadir? Tentu adalah orang-orang yang biasa bangun pagi dan diberkahi. Mereka adalah orang-orang terpilih tersebab dapat keberkahan pagi. Berkumpul bersama mendoakan pasutri. Subhanallah, tambah berkah.

Pelaku maksiat yang hendak tobat pun, maka mulailah dari pagi. Tobatnya diberkahi. Dibukakan jalan hindari maksiat. Didekatkan dengan orang baik.

Maka, sahabat Rasul tak ada satu pun yg menyia-nyiakan pagi. Mereka berdagang mulai dari pagi. Bahkan berangkat perang juga dari pagi.

Mereka kembali pulang menjadi pemenang. Memperoleh hasil yang gemilang. Lagi-lagi karena mereka telah dapat keberkahan dari bangun pagi.

Orang-orang yang selalu gagal dalam banyak hal : bisnis, jodoh, kuliah, dan lain-lain. Yang perlu dievaluasi adalah : sudahkah bangun pagi?

Ingin punya karya tulis yang bermakna? Maka buatlah di pagi hari. Tulisan diberkahi. Banyak orang terinspirasi.

Mari giatkan bangun pagi. Dan jangan tidur lagi. Ajak sanak famili. Negeri ini akan bangkit bermula dari pagi.

Sekian dan terima kasih. Semangat pagi dan temukan segera keberkahan di pagi ini.

Sabtu, 02 September 2017

Mendidik Buah Hati dengan Penugasan

🔴PENDIDIKAN adalah kewajiban setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Berbagai metode dalam mendidik perlu dilakukan diantaranya adalah penugasan.

🔴Sudah biasa berlaku dalam lingkup rumah tangga jika anak-anak mengajukan permintaan mereka kepada orang tua. Minta dibuatkan susu atau makanan, minta dimandikan, minta mainan bahkan minta digaruk ketika merasa gatal, dll. Orang tua dengan kasih sayangnya tentu tidak akan merasa keberatan menuhi permintaan buah hatinya itu, bahkan tengah malam sekalipun.

🔴Namun, orang tua juga tidak salah jika mereka memberikan beberapa penugasan kepada anak-anaknya. Seperti meminta anak-anak membersihkan kamar mereka, membuang sampah, menbantu mengambil sesuatu, atau berbelanja ke warung terdekat. Tentunya penugasan itu adalah untuk tujuan pendidikan dan disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas anak-anak.

🔴Sejarah mencatat bahwa para Nabi dan juga para sahabat dididik dengan berbagai penugasan. Nabi Ibrahim A.S. mendapat tugas dari orang tuanya untuk membantu membuat patung. Nabi Muhammad Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah mengembala kambing, begitu juga Nabi Musa A.S. Sahabat Umar Ibn Khatab ditugasi oleh ayahnya untuk mengembala unta dan mencarikan kayu bakar untuk bibinya.

🔴Dengan tempaan yang berupa penugasan inilah  para tokoh tersebut dibentuk lahir dan batinnya dan berlanjut menjadi manusia utama dan mulia. Dengan begitu mereka siap memikul berbagai amanat yang dibebankan kepada mereka, amanat kepemimpinan bahkan amanat kenabian.

🔴Dari penjelasan di atas dapat diketahui penugasan mempunyai manfaat yang besar diantaranya:

🗒️Pertama, menanamkan kemandirian.

🔵Penugasan yang diberikan oleh orang tua kepada buah hatinya akan menghilankan sikap manja dan tergantung kepada orang lain. Anak diajari untuk menyelesaikan berbagai permasalahannya sendiri mulai hal-hal yang sepele dan bersifat pribadi secara bertahap sampai pada hal-hal yang rumit.

🔵Kemandirian ini akan menjadi bekal yang sangat berguna ketika dewasa nanti. Dengan kemandirian, seseorang akan mengandalkan jerih payah tangannya sendiri dalam menghidupi keluarganya. Tidak mengandalkan bantuan orang lain. Dengan demikian kehormatan dan kemuliaannya akan selalu terjaga.

🗒️Kedua, menanamkan Tanggungjawab

🔵Tugas adalah tanggungjawab. Jika orang tua memberikan penugasan kepada anaknya berarti ia telah memberikan sebuah tanggung jawab di pundak anaknya. Orang tua berkewajiban membantu anaknya untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugasnya. Sejauhmana tugas dilaksanakan? Kesulitan apa yang dialami? Dan bagaimana penyelesaiannya?

🔵Mendidik, bukan hanya sekedar memberi tugas namun juga mengarahkan dan mengawal dalam pelaksanaan tugas.

🔵Kamudian orang tua berkewajiban meminta pertangggungjawaban dari tugas yang diberikan. Orang tua berhak memberikan penilaian, evaluasi dan saran terhadap tugas anaknya. Sembari juga memberi reward, pujian dan dorongan sesuai keperluannya. Yang jelas, mendidik dengan menugasi adalah pendidikan tanggungjawab.

🗒️Ketiga, mengasah skill dan kreatifitas

🔵Kisah nabi Muhammad Shalalallahu ‘Alaihi Wassallam, cukup menjadi contoh dalam hal ini. Dengan membatu pamannya Abu Thalib berdagang, jadilah Beliau cakap dalam keterampilan berdagang. Sehingga pantaslah Khadijah sang saudagar kaya merasa yakin melepas barang dagangannya di tangan Rasulullah muda, dan terbukti menguntungkan.

🔵Dalam pelaksanaan tugas tentu akan didapati berbagai kendala dan hambatan. Di sinilah anak didik dituntut berkreasi mencari jalan keluar terbaik. Dengan demikian pemikiran anak-anak akan terbiasa kreati. Kreatif yang benar tentunya. Sehingga diharapkan nantinya anak-anak menjadi priadi-bribadi yang tangguh, kreatif secara benar dewasa nanti.

🔵Mengambil hikmah pendidikan dengan penugasan yang dialami para nabi dan sahabat, sekaligus melihat pentignya metode penugasan, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, menulis dalam bukunya Managemen Pesantren: Pengalaman Pondok Modern Darussalam Gontor bahwa salah satu metode mendidik yang harus dilakukan adalah penugasan.

🔵Oleh karena itu, santri-santrinya diberikan penugasan dalam banyak kegiatan namun terukur guna menjadi bekal sekembalinya mereka  ke masyarakat.

🔵Pada akhir tulisan ini, penulis ingin mengingatkan kembali bahwa memberi penugasan sebagai pendidikan orang tua kepada anak-anak adalah perlu dilakukan. Paling tidak agar anak-anak dapat mandiri dan tidak manja, bertanggungjawab dan dapat mengasah skill serta kreatifitas mereka.

🔵Namun juga perlu diingat pemberian tugas harus proporsional dengan keadaan dan kemampuan anak-anak. Jangan sampai berlebihan dan keterlaluan. Betullah petuah orang bijak, “Celaka bagi mereka yang tidak mengetahui kadar kemampuaannya.” Demikian pula orang tua, celakalah bagi yang tidak memahami kadar kemampuan anak-anaknya.

🔏Usmanul Hakim

📚Hidayatullah.com

➖➖➖➖➖➖

سبحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

📝 Ust. Miftahuddin

Kamis, 31 Agustus 2017

Kegemukan Mempengaruhi Kesuburan

T: Kami sudah menikah 3 tahun namun belum dikarunia anak. Kami sama-sama bertubuh gemuk, adakah kaitannya dengan kesuburan?
J: Kegemukan berpengaruh pada kesuburan wanita maupun pria. Pada wanita, kegemukan berpengaruh terhadap gangguan metabolisme hormon, yang ada kaitannya dengan siklus haid. Sedangkan pada pria, kegemukan ada pengaruhnya terhadap temperatur skrotum, yang akan memengaruhi kuantitas dan kualitas sperma. Untuk itu, Jika Anda berencana memiliki keturunan, sebaiknya Anda berdua menurunkan berat badan lebih dulu.