Rabu, 21 Agustus 2019

Berkunjung Ke Taman Surga

Ibu-Ibu Sholiha, kita semua tentu ingin sekali bisa masuk ke surga-Nya Allah. Bisa bermain di taman-taman surga yang indah dan tentram. Berkumpul bersama orang-orang yang kita cinta dan mencintai kita.

Tahukah, Bu? Di dunia ini,  Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang, telah menyediakan kesempatan bagi kita untuk mencicipi taman-taman surga itu. Di manakah tamna surga dunia itu?

Pertama, berada di Raudhah, Masjid nabawi.

Jauh bu, ya. Perjuangan ke sana begitu besar. Banyak yang harus kita korbankan untuk bisa ke sana. Biaya umroh yang tidak murah, fisik yang kuat, dan waktu, dan lainnya.

Bahkan bu, saat kita sudah di sana berumroh, untuk masuk ke area raudhah, kita pun masih harus berjuang lagi. Antri panjang dengan jamaah lain, di dalam raudhah pun masih akan berdesakan lagi, waktu yang tersedia pun tidak panjang. Sudah berjuang besar masuk ke sana, dan saat di dalamnya pun kita hanya memiliki waktu yang singkat. Masya Allah, benar-benar harus berjuang, bu untuk bisa masuk taman surga dunia, di raudhah.

Memasuki taman surga dunia aja perjuangannya luar biasa, ya bu. Apalah lagi, masuk ke surga yang sesungguhnya. Harus bener-bener berjuang kita, iya kan.

Beruntungnya, Bu. Allah memberikan taman surga di dunia yang kedua, yang insya Allah lebih mudah kita memasukinta. Apa itu bu?

Taman surga yang kedua adalah Majelis Ilmu.

Ya, bu. Majlis-majlis ilmu. Baik yang online maupun offline. Pertemuan kita mengaji, taklim, pengajian, adalah taman-taman surga yang Allah sediakan bagi kita yang mau merasakan nikmatnya taman surga di dunia.

Tapi bu, ternyata juga tidak mudah memasukinya. Kita sendiri harus berjuang dengan diri kita sendiri. Berjuang melawan kemalasan, penundaan, dan kesibukan dunia kita, entah itu pekerjaan, keluarga, bisnis, biaya, dan lainnya.

Ternyata juga tidak mudah, ya bu. Meskipun majilis ilmu tersedia banyak saat ini, baik yang gratis ataupun berbayar, baik yang onlin maupun offline, tapi ternyata tidak semua orang mau memasukinya dengan hati yang lapang.

Ada yang datang dan masuk karena terpaksa, saat ada masalah, atau karena urusan dunia.

Niat kita tentu akan mempengaruhi ruhiyah, pikiran dan perasaan kita sendiri.

Semakin akhirat niat kita maka tentu, insya Allah, kita benar-benar akan bisa merasakan kenikmatan taman surga itu sendiri dari majlis-majlis ilmu yang kita hadiri.

Maka luruskan niat kita, Bu. Hadirlah, ikutilah, karena Allah saja. Majlis ilmu adalah taman surga. Di dalam ilmu ada cahaya. Dapatkan cahaya ilmu itu untuk menerangi kehidupan kita. Insya Allah bahagia akan kita peroleh sampai ke surga yang sesungguhnya

By: Sukmadiarti, Psikolog

Pasangan Terbaik Itu Adalah Pasanganku

Kita hendaknya bersyukur menjadi bagian dari pasangan hidup kita. Kekurangan kita dilengkapi oleh kelebihannya. Kelebihan kita melengkapi kekurangannya.

Ada satu masa mungkin di mana kita pernah merasa lebih darinya. Ingatlah. Bahwa masa itu bisa menjadi masa terburuk dalam hubungan kita. Saat-saat di mana kita dikuasai oleh ego dan kesombongan diri. Merasa diri lebih baik, berjasa, dan berkorban dibanding pasangan kita.

Masa kesombongan inilah yang seringkali menjadi masa terendah dalam sebuah pernikahan.

Pada dasarnya, kita semua saling mengisi satu sama lain. Jangan biarkan kesombongan mengalahkan keberkahan.

Hiduplah penuh syukur. Nikmati setiap kebersamaan. Isi dengan ketaqwaan. Raihlah kemuliaan dalam pernikahan kita.

Aku dan kamu, kita adalah pasangan terbaik yang Allah persatukan dalam ikatan suci, pernikahan. Jaga selalu kesuciannya, jaga selalu cintanya.

Jumat, 23 November 2018

Ketika Orang Tua Mengeluh tentang Anaknya

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya susah bangun subuh.
Padahal secara fitrah, setiap anak sejak bayi itu suka bangun dini hari sebelum subuh
Orangtuanyalah dulu yang menyuruhnya tidur kembali karena hari masih gelap

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya mudah sakit dan obesitas karena buruknya pola makan
Padahal secara fitrah, setiap anak sejak bayi suka makanan alami (natural) tanpa pemanis dsbnya
Orangtuanyalah dulu yang malas memasak sehat dan mengenalkannya Junk Foood, menjejalkan makanan kemasan karena pola makan orang dewasa yang buruk

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya lumayan jorok atau tidak berhati hati pada najis
Padahal secara fitrah, setiap anak sejak bayi suka kebersihan, mereka menangis jika bajunya basah terkena BAB atau BAK
Orangtuanyalah dulu yang mengenalkannya pampers dan membiarkannya karena malas menggantinya 

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya males gerak atau kecanduan game
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sangat suka bergerak dengan antusias dengan tubuh yang luwes
Orangtuanyalah dulu yang menyuruhnya banyak diam agar segera berstatus "shaleh" dan memberinya gadget agar diam

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya peragu, lambat mengambil keputusan, mudah dibully
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sangat ego sentris dan percaya diri
Orangtuanyalah dulu yang banyak memaksanya mengalah, melarangnya memilih sendiri bajunya, tidak memberinya kepercayaan untuk mencoba walau salah

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya malas sholat, harus disuruh suruh
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sudah mengenal Robbnya dan menyukai kebaikan
Orangtuanyalah dulu yang memaksanya untuk segera sholat dengan tertib sebelum usia 7 tahun dan sebelum gairah cintanya pada Allah tumbuh indah sehingga anak menjadi membenci kebaikan sepanjang hidupnya. Padahal Allah sendiri memerintahkan orangtua untuk menyuruh anaknya sholat sejak usia 7 tahun

Orangtua mengeluh anak gadis atau perjakanya malas belajar
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi adalah pembelajar yang tangguh, mereka terus belajar berjalan hingga berlari walau berkali kali terjatuh dan tidak pernah memutuskan untuk merangkak seumur hidup
Orangtuanyalah dulu yang menggegasnya menguasai banyak hal, menjadikan belajar sesuatu yang menyebalkan dan liburan adalah hari terindah

Orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya bingung bakatnya, tak punya gairah pada aktifitas produktif
Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi punya sifat unik yang khas yang kelak akan menjadi peran peradaban terbaiknya yang unik.
Orangtuanyalah dulu yang mencubit anak cerewet (orator ulung), menghukum anak keras kepala( pemimpin masa depan), memaksa bicara anak pendiam (pemikir dan peneliti), menyuruh diam anak kepo (visioner), memaki anak yang sensitif dan cengeng (sastrawan), menyetop anak yang banyak akal (innovator) dstnya.

dstnya...

Ternyata begitu banyak keluhan ketika ananda menjelang AqilBaligh bahkan sesudahnya, karena kita seringkali merasa lebih hebat dari Tuhan, merasa fitrah yang Allah instal itu kurang sehingga dilebaykan atau dilalaikan dan diabaikan atau diintervensi hingga cidera.

Jika sudah terlanjur maka bertaubatlah, banyak berdoalah agar Allah mengembalikan fitrah anak anak kita, mohonkanlah maaf pada ananda, dekaplah sebelum terlambat, ulangi prosesnya sebagaimana dahulu ananda masih kecil, gairahkan kembali cintanya pada Ilahi dstnya. Kemudian rileks dan optimislah dalam merawat dan menumbuhkan fitrah ananda. 

Sabtu, 10 November 2018

Buah Kesabaran dan Teladan Seorang Guru

"Bu, gimana ya saya ngajar anak-anak kok kayaknya susah banget. Yang satu nangis, yang satu diem. Yang satu main, yang satu maju tapi ga ada suaranya. Saya harus gimana ya, Bu?" tak jarang pertanyaan ini saya dapatkan ketika momen evaluasi pekanan guru-guru di awal tahun ajaran baru.
.
.
Memori saya teringat 3 tahun silam, ketika pertama kali membuka kelas Tahfizh For Kids (usia 3-6tahun) di rumah. Enam orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. Saya dan suami resign mengajar di tempat lain demi membuka kelas ini.
.
.
Suami saya bertugas mengajar. Sedangkan saya sebagai asisten penjaga anak-anak yang sekiranya butuh bantuan.
.
.
Pekan pertama dan kedua,  anak2 masih ditunggu oleh orangtuanya. Aman. Pekan ketiga dan keempat, sebagian sudah tidak ditunggu oleh orangtuanya. Saya mulai siaga menggendong anak2 yang belum siap ditinggal oleh orangtuanya.
.
.
Bahkan, gagang pintu rumah saya saat itu sampai rusak karena energi anak-anak cukup besar untuk membuka pintu 😁. Saya gendong lagi. Kabur lagi. Bahkan, ada yang sampai kabur pulang ke rumah (kebetulan tetangga beda 1 gang, hehe.) 😅
.
.
Begitulah awal-awal saya dan suami mengajar penuh tantangan dan setiap malam kami selalu evaluasi. Membaca buku-buku tentang pengajaran alquran dan juga studi banding ke beberapa sekolah.
.
.
Sebulan pertama, kami nyaris stress. Setiap selesai ngajar, rasanya kepala seperti berasap. 😂😨
.
.
Lalu kami teringat bahwa Allah lah penggenggam hati anak2 ini.  Kami yakin fitrahnya mereka adalah anak2 yang shalih. Hanya saja cara kami saat itu mungkin kurang tepat.
.
.
Dan ternyata, kuncinya adalah ruhiyah dan kesabaran seorang guru. Pernah suatu hari ada seorang santri yang menangis dan mengamuk, saya gendong dan membujuknya. Tangisnya tak kunjung reda. Lalu saya menyerahkan anak itu ke suami yang sedang mengajar.
.
.
Dan apa yang terjadi? Tanpa digendong, cukup duduk di sebelah suami saya,  anak itu langsung diam. Dan, saya langsung ciut. 🙁😢
.
.
Teringat kisah Imam Nafi' (salah satu dari 7 imam qiroah). Beliau memiliki seorang murid yang tuli. Coba kita bayangkan bagaimana cara mengajar mengaji orang yang tuli?
.
.
Namun dengan penuh kesabaran, Imam Nafi' tetap mengajar. Hingga pada akhirnya sang murid bisa mengaji, bahkan  dikemudian hari,  muridnya menjadi seorang Imam besar qiroah. Siapakah beliau? Beliau adalah Imam Qolun.
.
.
*Terkadang, buah kesabaran itu akan kita petik nanti bertahun-tahun yang akan datang. Semoga, dengan kesabaran kita mendidik anak2 kita, Allah karuniakan mereka keberkahan ilmu yang bermanfaat untuk banyak orang. Aamiin.*

Salam,
Fatimah Azzahra

FAKTA SAINS DIBALIK TANTRUM PADA ANAK

By Ario muhammad

Namanya dopamin, salah satu hormon terpenting dalam otak manusia yang didaulat sebagai sumber motivasi terbesar dalam diri seseorang. Salah satu pusat yang memicu kita merasakan kesenangan atau kesedihan. Karena perannya yang sangat vital, seseorang yang memiliki kandungan dopamin yang berlebihan akan menderita skizorfenia. Sebaliknya, bagi yang kekurangan dopamin dalam otaknya, maka ia akan beresiko terkena parkinson disease.

Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, dopamin membutuhkan dopamin reseptor. Salah satu jenis dopamin reseptor yang umum diketahui adalah DRD4 yang dicoding oleh gen DRD4. Ada salah satu variasi gen yang jika dimiliki seseorang, maka fungsi dopamin-nya tidak berjalan dengan baik. Namanya adalah 7-repeat allele (7PA). Lebih menakjubkan lagi, 7PA ini yang berhubungan langsung dengan perilaku seseorang, termasuk MODAL DASAR apakah seorang anak berpotensi TANTRUM atau TIDAK.

Saya cukup tercerahkan ketika membaca penjelasan ini dalam buku Scientific Parenting [1]. Seperti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering saya dan Istri diskusikan tentang tantrum. Kami meyakini, bahwa ada anak-anak yang memang terlahir punya potensi untuk tantrum. Sebaliknya, ada juga yang memiliki resiko rendah untuk tumbuh menjadi anak yang tantrum.

Adalah hasil penelitian dari dua pakar efek 7PA terhadap perilaku anak asal Belanda (University of Leiden): Prof. Kranenburg & Prof. Ijendoorn yang menarik untuk kita simak [2]. Kranenburg-Ijendoorn ini merekrut 47 orang Ibu yang memiliki bayi berumur 10 bulan dan mengikuti perkembangan anak-anak mereka hingga berusia 3 tahun. Mereka bahkan merekam semua aktivitas sang Ibu dan anak agar bisa memnatau perkembangan mereka.

Ke 47 Ibu tersebut dikategorikan ke dalam DUA respon grup: RESPONSIF dan NON-RESPONSIF groups [3]. Responsif grup berarti golongan para Ibu yang dengan cepat merespon kebutuhan anak mereka, mampu memahami kebutuhan anak mereka dengan tepat, memberikan respons yang benar atas keinginan anaknya, juga sering merespon keinginan anak mereka. Sebaliknya, non-responsif grup adalah para ibu yang lambat, kurang paham, dan tidak sering merespon keinginan anak mereka [4].

Untuk mempelajari efek gen DRD4-7PA pada anak, mereka juga mengambil sampel DNA setiap anak untuk mengetahui apakah ada kandungan DRD4-7PA atau tidak. Agar objektif, Hasil DNA anak-anak ini baru dilihat ketika mereka sudah menyelesaikan semua hasil analisis pemantauan Ibu dan anak dari sampel mereka. Berbeda dengan sang Ibu yang lebih dipantau interaksi mereka terhadap kebutuhan sang anak, untuk anak-anak, kedua Professor ini fokus kepada AKSI mereka. Apakah mereka menunjukkan karakter agresifitas seperti membantah, memukul, membuang makanan atau mainan, marah, hiperaktif, dan aksi lainnya yang dekat dengan karakter tantrum.

Hasil riset mereka benar-benar menunjukkan dengan jelas bahwa LINGKUNGAN mampu MENGALAHKAN GEN BAWAAN, sama seperti beberapa hasil riset lain yang saya baca sebelumnya [5-6]. Anak-anak yang memiliki gen 7PA tetapi tumbuh dalam asuhan kelompok ibu yang RESPONSIF justru memiliki tingkat agresifitas yang rendah & tidak beda jauh dengan anak-anak yang tidak memiliki gen 7PA. Sebaliknya, bagi anak-anak yang memiliki gen 7PA dan tumbuh dalam lingkungan kelompok ibu yang NON-RESPONSIVE, cenderung memiliki tingkat agresifitas DUA KALI LIPAT dibanding anak-anak yang memiliki gen 7PA tapi tumbuh dalam asuhan ibu yang responsif.

SEDERHANANYA: ada anak-anak yang punya POTENSI TANTRUM, tapi DENGAN POLA ASUH YANG TEPAT, ia akan tumbuh menjadi seseorang yang tingkat agresifitasnya rendah.

Saya lalu teringat dengan bab pertama buku HOW CHILDREN SUCCESS [7] yang membahas hasil riset pada interaksi antara Ibu dan anak Tikus. Lebih khusus lagi, sang peneliti tersebut membahas EFEK MENJILAT KEPADA PERTUMBUHAN ANAK TIKUS. Menjilat anaknya adalah satu cara Ibu tikus untuk menenangkan anaknya. Sejalan dengan hasil riset dua Prof. Belanda ini, anak tikus yang tumbuh dalam asuhan yang menenangkan cenderung lincah, berani, dan berperilaku tidak seagresif anak tikus yang kekurangan level dijilat ibunya :)

Selamat berkontemplasi!
Semoga kita semua mampu menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.

----------------------------

[1] Letourneau, N & Joschko, J: Scientific parenting - what science reveals about parental influence, Dundurn Publishing, Toronto, 2013.

[2] Bakermans-Kranenburg, M.J, & Ijendoorn: Gene-environment interaction of the dopamine D4 receptor (DRD4) and observed maternal insensitivity predicting externalizing behaviour in preschoolers. Development Psychology, 48(5), 406-409, 2006.

[3] Yang lebih tepat adalah high-sensitivity and low-sensitivity groups karena NON-RESPONSIF bisa diartikan sebagai TANPA RESPON. Saya menggunakan non-responsif grup untuk memudahkan pembaca.

[4] Ibu yang masuk dalam kategori NON-RESPONSIF bukan berarti mereka IBU YANG BURUK. Tidak ada Ibu yang tak ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan well behaved. Terkadang, kurangnya respon sang Ibu ini karena kelelahan bekerja, sibuk, atau bahkan cenderung takut melakukan kesalahan interprestasi atas keinginan anak. JADI TULISAN INI BUKAN DALAM RANGKA MENJUDGE PARA IBU.

[5] Jaffe, S.R., et al.: Nature x nurture: genetic vulnerabilities interact with physical maltreatment to promote conduct problem. Development and Psychhopathology, 17(1), 67-84, 2005.

[6] Kauffman, J., et al: Brain-derived neurotrophic Factor-5-HTTLPR gene interactions and environmental modifies of depression in children. Biology Psychiatry, 59(8), 673-680.

--------

Btw, mau tahu kisah seru kami sebagai PhD parents di Inggris? Buku terbaru saya tentang MENGGAPAI CITA BERSAMA PASANGAN HIDUP akan mengupas semuanya dengan tuntas. Kalian akan diajak berkelana menuysuri hikmah tentang jodoh dan memilih pasangan hidup agar mimpi kalian tetap tergapai, pentingnya menuntut ilmu bagi para muslimah, perjuangan seorang Ibu dengan 2 anak yang studi S3 di Inggris, hingga pesan-pesan parenting berdasarkan pengalaman kami mendidik buah hati kami di UK.

Video Rekaman Kajian Fikih Pembatal-Pembatal Puasa Kontemporer

Berikut kami hadirkan Video Rekaman Kajian "Fikih Pembatal-Pembatal Puasa Kontemporer" yang dilaksanakan di Masjid Lathifah Abu Mu’thi Perumahan Bukit Mutiara (Asabri) Manggala Blok C12 Makassar. Semoga bermanfaat.

1. Memakai Obat Semprot Dapat Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/2hESKM

2. Sublingual Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/3YHpnH

3. Obat Bius Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/DQjqND

4. Obat yang Dimasukkan Ke Dubur Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/ZwD8vV

5. Apakah Melakukan Endoskopi Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/zSa2Eb

6. Obat Tetes Telinga Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/r1m7C2

7. Obat Tetes Hidung Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/XmUxeW

8. Apakah Suntikan Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/VmGo1B

9. Alat Bantu Pernafasan Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/QxsXpB

10. Pakai Pasta Gigi Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/DqPzh1

11. Ganti Gigi Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/s8wJmu

12. Obat Kumur Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/7ZdhMP

13. Memasang Alat Kontrasepsi di Dalam Rahim Membatalkan Puasa?
Link: https://goo.gl/LwZVAF

________
dzulqarnain.net
fb.com/dzulqarnainms
telegram.me/dzulqarnainms
twitter.com/dzulqarnainms
instagram.com/dzulqarnainms

Rabu, 04 April 2018

Memilih Sekolah Dalam Islam

Memberikan pendidikan kepada anak adalah suatu kewajiban orang tua yang harus di laksanakan. Ini berdasarkan nash-nash secara umum dari Al Quran dan As Sunnah yang suci ataupun secara naluri insaniyah yang sudah seharusnya peduli akan hal tersebut. Namun perlu dingat bahwa memberi pendidikan untuk anak adalah bagaikan menorehkan tinta di atas lembaran kosong. Kalau kita menorehkannya dengan tinta berkualitas jelek, dengan asal-asalan, maka jangan harap akan mendapatkan hasil yang baik. Lain halnya jika kita menorehkannya dengan tinta emas dan dengan penuh kecermatan serta kehati-hatian, insya Allah kita akan mendapat hasil yang memuaskan.

Pada dasarnya pendidikan itu bermula dari rumah, yang mana dikenal dengan istilah Al Ummahaat madrasatul uula lil abnaa’. Yaitu para ibu adalah tempat pendidikan pertama untuk sang anak. Atau secara umum bahwa kedua orang tuanya merupakan sarana pendidikan pertama dan sangat menentukan bagi masa depan sang anak. Dalam hal ini terlebih dahulu dibutuhkan keshalihan kedua orang tua. Sebab keshalihan orang tua secara umum akan berpengaruh kepada anak-anaknya atau bahkan sampai anak cucunya. Kita bisa melihat kisah Khadir ketika beliau membangun kembali tembok bangunan yang hendak runtuh dengan tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasannya kenapa beliau tidak mengambil upah. Allah berfirman:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang shalih, Maka Rabbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.(Al Kahfi:82)

Ibnu Katsir berkata: “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”.

Disamping itu Allah memerintahkan kepada setiap orang tua untuk senantiasa khawatir terhadap pendidikan dan masa depan anak-anaknya, agar nantinya anak-anaknya bisa menjadi orang yang bertakwa dengan senantiasa beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan rajin melakukan keta’atan lainnya, seperti dalam FirmanNya :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya (mereka) meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.”(An Nisa 9)

Said bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: “Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orang tuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah, yang artinya : “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (At Thur: 21)[2]

Seiring dengan bertambahnya usia dari anak-anak kita tentunya mereka membutuhkan sarana untuk mengembangkan wawasannya serta pengenalan lingkungan. Dengan demikian proses pendidikan berlanjut ke lembaga-lembaga pendidikan formal ataupun non formal. Ini menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mencari lembaga pendidikan atau sekolah yang baik untuk anak demi masa depan dunia dan akhiratnya. Meskipun sekolah itu sebenarnya hanya sarana dan tempat singgah anak untuk menempuh ke jenjang-jenjang berikutnya, namun tidak jarang sekolah bisa lebih mewarnai prilaku dan tabiat buruk bagi anak. Oleh karena itu misi kita adalah memilih sekolah bagi anak dengan menggunakan kurikulum yang seiring dengan Syariat Islam. Dengan demikian, pendidikan akan menitikberatkan kepada keberhasilan akhiratnya yang itu adalah keberhasilan dan kebahagiaan yang hakiki sebagaimana yang terkandung pada ayat-ayat di atas.

Kita sendiri memahami kalau setiap orang tua memiliki pertimbangan tersendiri untuk memilih pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Terbaik menurut mereka memang memiliki definisi yang berbeda. Ada yang terbaik karena progaramnya, biayanya, fasilitasnya, atau berbagai kriteria lain. Namun, terlepas dari pilihan tersebut, hendaklah setiap orang tua mempertimbangkan siapa yang akan memberikan pengajaran pada anaknya. Terutama dengan memperhatikan agama dan akhlaknya yang baik dari para pendidik. Sebab seorang pendidik yang baik diharapkan akan mampu mencetak karakter baik kepada murid-muridnya.

Sebuah wasiat yang sangat berharga dari salaf kita: “Hendaklah penuntut ilmu mendahulukan pandangannya, istikharah kepada Allah untuk memilih kepada siapa dia berguru. Hendaklah dia memilih guru yang benar-benar ahli, benar-benar lembut dan terjaga kehormatannya. Hendaklah murid memilih guru yang paling bagus dalam mengajar dan paling bagus dalam memberikan pemahaman. Jangan dia berguru pada orang yang sedikit sifat wara’nya atau agamanya, atau tidak memiliki akhlak yang bagus.”

Sangat disayangkan fenomena di sekitar kita banyak orang awam yang hanya bermodal kantong tebal kurang tepat dalam memilih lembaga pendidikan. Mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Sehingga mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal yang tidak berkurikulum sesuai Syariat Islam hanya dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua. Hanya sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak yang shalih dan berhasil dunia dan akhiratnya.

Memang hidayah itu milik Allah, namun hidayah itu tidak datang dengan sendirinya. Melainkan dia harus dikejar yang tentunya melewati jalan yang telah Allah dan Rasulullah terangkan kepada kita, dan bukan justru melewati jalan yang semakin menjauhkan dari hidayah tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kita dan anak cucu kita, dan semoga kita semua dimudahkan untuk bisa mendidik anak cucu kita menjadi anak-anak yang shalih dan bertakwa serta beragama di atas Al-Quran dan As-Sunnah. Memilih sekolah yang berkurikulum sesuai dengan Syariat Islam adalah salah satu ikhtiar kita untuk mendapatkan semua itu. Dan Allah lah tempat meminta pertolongan.