Rabu, 21 Agustus 2019

BAHAGIA TANPA NANTI, BAHAGIA TANPA TAPI

Adakah diantara Bapak Ibu yang saat ini merasa belum bahagia? Apa sebabnya?

.Belum memiliki anak
.Belum memiliki rumah
.Belum memiliki kendaraan mewah
.Belum haji/umroh
.Belum bayar hutang/cicilan
.Sedang Sakit atau ada keluarga yang sakit
.Sedang ada masalah dengan pasangan/ orangtua/  mertua/ teman/ tetangga/ rekan kerja/ sesama

Wah, banyak ya sebabnya. Kalau kita mencari alasan untuk tidak bahagia, ada begitu banyak hal yang bisa kita temukan dan menjadi sebab ketidakbahagiaan.

Sadar tidak sadar, barangkali selama ini, hidup, diri, pikiran dan perasaan kita didominasi oleh ketidakbahagiaan.

Itulah sebabnya, saat kita merasa tidak bahagia, perilaku kita pun menunjukkan ketidakbahagiaan.

Apa itu wujud ketidakbahagiaannya?

MENGELUH
Coba Cek! Apakah Bapak/Ibu termasuk pribadi yang mudah mengeluh? (Jawab dalam hati aja ya)
Kalau iya, itu mengindikasikan bahwa Bapak/Ibu belum bahagia.
Apa sih itu BAHAGIA?

Setiap orang ingin hidupnya bahagia, betul? Tapi sedikit sekali orang yang mengetahui dan memahami apa itu bahagia. Akibatnya, ia tidak tahu bagaimana cara menjadi bahagia.

Setiap orang ingin hidupnya bahagia, betul? Tapi sedikit sekali orang yang mengetahui dan memahami apa itu bahagia. Akibatnya, ia tidak tahu bagaimana cara menjadi bahagia.

Kebahagiaan adalah TUJUAN AKHIR dari segala aktivitas. Artinya, tidak ada lagi tujuan lain yang hendak diupayakan setelah mencapai kebahagiaan itu.

Semua tujuan lain yang bukan kebahagiaan adalah tujuan sementara yang diperjuangkan untuk mencapai tujuan yang lain lagi. Salah satu ciri bahwa suatu tujuan yang kita klaim sebagai sumber kebahagiaan kita, tetapi ternyata palsu, adalah bahwa tujuan itu ternyata bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuan lain.

Contohnya, kita belajar untuk menuntut ilmu. Setelah belajar kita jadi mengetahui dan memahami suatu ilmu. Setelah memahaminya, kita akan berusaha untuk mengamalkan ilmu tersebut. Kita juga berusaha menjaga hubungan baik dengan guru yang memberi kita ilmu. Sehingga kita bisa mendapat manfaat, berkah, dan kebaikan dari ilmu tersebut. Saat kita mendapat berkahnya maka kita akan merasa senang. Saat kita senang kita akan terus melakukannya lagi sampai pada tujuan akhir yakni KEBAHAGIAAN SEJATI.

Belajar adalah sarana, betul? Belajar, bukanlah tujuan akhir. Artinya, bila kita tidak belajar pun, masih ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan yang sejati. Tapi dengan belajar, kita akan menjadi lebih mudah dan cepat untuk meraih kebahagiaan sejati.

Misal kita mau belajar tentang ilmu manajemen emosi. Tujuannya supaya bisa lebih mampu mengendalikan diri, tidak mudah marah/cemas/kecewa sehingga bisa menjalin hubungan yang hangat dengan anak, suami, dan sesama. Saat kita bisa berhubungan baik dengan orang lain, silaturahim kita terjaga, rezeki lancer, dan mendapat berkah kebahagiaan sejati.

Tapi, bila kondisi belum memungkinkan kita untuk belajar manajemen emosi karena satu dan lain hal di satu tempat, bukan berarti kita jadi tidak bahagia, iya kan. Kita masih bisa mengupayakan cara lain yang bisa membuat emosi kita lebih terkendali.

Begitu pula halnya dengan permasalahan-permasalahan yang disampaikan di awal tadi. Belum punya anak, karir stagnan, sakit, belum punya rumah, belum punya kendaraan, dan banyak hal lain yang umumnya kita keluhkan, itu semua bukanlah kebahagiaan sejati yang kita cari.

Dalam arti, ketika misal pun kita belum juga dikaruniai anak, belum punya kendaraan bagus, punya penyakit, punya masalah, itu semua tidak menjadi penghalang kita untuk menjadi pribadi yang bahagia, karena kita masih bisa mencari sarana lain untuk meraih bahagia. Bila pun kita telah memiliki dan mendapatkan item-item tadi, punya anak, punya mobil, tubuh sehat, itu juga belum tentu menjamin kita bisa bahagia, bila kita tidak menggunakannya sebagai sarana untuk meraih tujuan akhir yang hakiki.

Apa yang kita anggap sebagai pemberi bahagia selama ini, itu hanyalah SARANA dan hanya kebahagiaan semu, yang bertujuan untuk mencapai tujuan akhir, yakni kebahagiaan yang sejati. Bilapun sarana itu belum kita miliki, kita masih bisa mengupayakan sarana lain yang sudah kita miliki untuk meraih kebahagiaan sejati.

KEBAHAGIAAN SEJATI
Salah satu tanda bahwa seseorang telah sampai (atau setidaknya dekat) pada kebahagiaan, salah satu tandanya adalah dengan hadir dan sadar sepenuhnya ketika berada di sini dan saat ini, to be fully here and now.

Ia punya tujuan akhir yang tiada lagi tujuan lain setelah itu, yakni AKHIRAT. Ia punya tujuan untuk bisa selamat dan bahagia di akhirat. Dan  untuk bisa mencapai itu, maka ia harus menjadi pribadi yang bahagia pula di dunia.

Maknanya adalah, ia masih hidup dan beraktivitas di dunia dengan segala kesibukan yang ada, tetapi dunia tak lagi mengotori hatinya, tak lagi dapat mengganggu kedamaian hatinya. Jadi, orang yang bahagia adalah yang bisa menikmati hidupnya setiap saat, setiap waktu, dan di mana pun ia berada, apapun kondisi yang ia hadapi.

BAHAGIA DI DUNIA
Untuk bisa merasakan kebahagiaan di dunia, kita harus hadir sepenuhnya saat ini. Kita melakukan segala aktivitas dengan suatu kesadaran yang tinggi, bahwa apa yang kita lakukan semuanya akan dipertanggungjawabkan. Sehingga kita benar-benar menjaga sikap, pikiran, perasaan, dan perilaku kita selalu dalam keadaan yang baik dan positif.

Tidak lagi mengeluh tapi berusaha untuk bersyukur. Belum punya anak, kita syukuri dengan bakti pada orangtua, bisa berbuat baik pada sesama, bekerja dan terus berkarya memberi manfaat. Jadi walau belum dikarunia anak, kita tetap bisa melakukan aktivitas yang membuat kita sampai pada tujuan akhir, bahagia hingga ke akhirat.

Belum punya rumah, tidak menjadi halangan bagi kita untuk membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Sehingga urusan rumah tidak membebani pikiran kita untuk memaksa diri menggunakan cara pintas meraihnya. Tapi kita mengupayakan cara akhirat untuk memudahkan mencapainya. Yakni dengan berbuat baik, saying, taat pada suami bagi seorang istri, sayang pada istri bagi suami, menyayangi buah hati, bakti pada orangtua, sehingga berkahnya rumah tangga kita akan melapangkan rezeki yang membuat jalan untuk memiliki rumah pun terbuka.

BAHAGIA SAAT INI, TANPA NANTI, TANPA TAPI
Dengan memahami konsep bahagia tadi, kita jadi paham, bahwa bahagia bukan bila, bukan jika. Tapi, bahagia adalah saat ini dan sekarang juga, di hati kita, di jiwa kita, di batin kita. Bahagia bukan pada apa-apa yang berada di luar diri kita. Tapi bahagia bisa kita peroleh saat ini juga pada apa-apa yang sudah ada pada diri kita sendiri.

Apa yang selama ini kita kira bisa membuat kita bahagia dengan berandai, bila… jika…. Sesungguhnya bukanlah tujuan akhir melainkan hanya sarana, sehingga bila pun kita meraih itu, masih akan ada lagi terusannya yang membuat kita akan terus mengejar sesuatu yang bukan hakiki. Sebaliknya bila pun kita belum bisa meraihnya, masih ada jalan dan sarana lain yang bisa kita gunakan untuk bisa meraih kebahagiaan hakiki, dengan menggunakan apa-apa yang sudah ada pada diri kita.

Jadi kesimpulannya, Bahagilah Saat Ini, Tanpa Nanti, Tanpa Tapi. Dengan Apa Yang Sudah Kita MIliki, Raihlah Kebahagiaan Yang Hakiki

MENGAJARKAN ANAK PANDAI BERHITUNG, SEBERAPA PENTING?

Seorang guru di Australia pernah berkata

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?”

Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabanya;
Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI.

Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.

Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri.

[di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri]

Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

Anak belajar hukum karmaphala atau sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya.

Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb.

Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya....

Padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementerian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung [Baca Tulis Hitung], Les Matematika dan sejenisnya.

Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya...
Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya...
seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta.

Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik

Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu

... mau ?

Salam syukur penuh berkah

Ayah Edy

BERTERIMA KASIH SAAT BERBAGI

Saat kita berbagi pada sesama kadang kita lupa berterima kasih

Kita merasa bahwa kitalah yang sudah membantu mereka

Bahkan mungkin secara tak sadar ada rasa kebanggaan dalam diri kita

Padahal merekalah yang sejatinya sudah membantu diri kita

Kita mungkin sudah membantu memperbaiki urusan dunia mereka

Tetapi seungguhnya mereka juga memperbaiki urusan akhirat kita

Berterima kasihlah kepada mereka saat kita berbagi kepada sesama

Bolehkah Mengajak Anak Melihat Pemotongan Hewan Kurban?


Umat Muslim di seluruh dunia esok akan menyambut Hari Raya Idul Adha. Idul Adha sendiri identik dengan proses penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing, maupun domba.

Bagi anak-anak, momen ini merupakan momen yang mereka nantikan, karena ketertarikan mereka terhadap dunia binatang. Umumnya, anak-anak akan melihat hewan-hewan tersebut beberapa hari sebelum proses penyembelihan pada Hari Raya Idul Adha. Di tempat hewan-hewan tersebut, mereka akan bermain sembari mencoba memberi makan dengan rerumputan atau dedaunan.

Proses penyembelihan hewan kurban akan dilakukan setelah salat Idul Adha. Nah, Usai melaksanakan salat Idul Adha, tak jarang banyak orang tua yang mengajak anak mereka, bahkan yang masih balita, untuk ikut menyaksikan pemotongan hewan kurban secara langsung di sekitar tempat tinggal mereka. Tujuannya, untuk mengenalkan anak tentang ajaran agama Islam.

Mengajak Anak Melihat Pemotongan Hewan Kurban

Namun, sebenarnya, bolehkah Si Kecil diajak melihat proses penyembelihan hewan kurban? Para pakar psikologi menekankan pentingnya peran dan perhatian orang tua dalam memberikan pemahaman serta mengetahui dampak psikologis bagi anak yang menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban.

Hal ini kembali pada kebijakan Anda sebagai orang tua. Moms dan Dads tentunya sudah mengenal benar bagaimana kondisi psikologis Si Kecil. Jika anak Anda termasuk balita yang santai, mengajaknya bukan suatu masalah.

Namun, jika Si Kecil termasuk anak yang sensitif, bukan tidak mungkin, menyaksikan pemotongan hewan kurban bisa membuatnya merasa ngeri dan trauma melihat darah yang mengalir keluar dari tubuh hewan tersebut. Memang, hal ini bisa berdampak negatif jika Si Kecil ternyata belum memiliki kesiapan mental.

Ya Moms, kesiapan mental anak jadi hal yang penting jika Anda ingin mengajaknya melihat penyembelihan hewan kurban. Karena itu, Moms atau Dads sebaiknya tidak mengajak sang anak untuk melihat prosesi penyembelihan jika mental Si Kecil belum siap.

Besar kemungkinan pemotongan hewan kurban bisa menimbulkan salah persepsi pada anak. Si Kecil akan berpikir bahwa yang dilakukan itu adalah hal yang jahat karena ‘menyakiti’ hewan. Anak memang cenderung merasa iba pada hewan yang ‘disakiti’.

Beberapa pakar psikologi juga berpendapat bahwa anak-anak yang menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban dikhawatirkan dapat mempengaruhi psikologis mereka, yakni timbul rasa takut berlebihan (fobia) atau justru timbul sifat agresif.

Setiap stimulus yang masuk ke otak anak akan sangat memengaruhi perilaku anak dan akan terekam kuat di area memori, terlebih jika saat kejadian terdapat nuansa emosi yang menyertainya. Umumnya dunia balita adalah dunia fabel. Mereka sayang dengan dunia binatang. Jadi dikhawatirkan akan muncul ketakutan atau hal lainnya jika melihat hewan disembelih.

Berikan Pemahaman Terlebih Dahulu

Karena itu, penting bagi Moms dan Dads memberikan pemahaman sebaik-baiknya dengan bahasa sederhana mengenai penyembelihan hewan kurban. Sampaikan informasi mengenai tujuan dilakukannya pemotongan hewan kurban dan maknanya, seperti nanti daging hewan yang sudah disembelih akan dibagi-bagikan kepada orang yang kurang mampu.

Namun, jika anak tidak bisa menyaksikan penyembelihan hewan kurban, bukan berarti ia tidak dapat berpartisipasi dalam momen Idul Adha tersebut, Moms. Anda tetap bisa ajak anak melihat penyaluran daging kurban kepada orang-orang kurang mampu. Hal ini akan menumbuhkan rasa empati pada Si Kecil.

(M&B/SW/Dok. Freepik)

Berawal dari Marketer jadi Owner

Awalnya saya hanya marketer Palugada alias segala macam produk dijual,  marketer tanpa modal hanya modal kuota aja

Alhamdulillah dengan izin Allah sekarang bisa jadi Owner meski masih newbie hehe.

Fokus dibidang herbal kecantikan, kesehatan,  promil,  dan pasutri.  Alhamdulillah Madu Cantik adalah produk herbal perdana saya dan sudah laku terjual 5000 botol dalam waktu 3 bulan. Masyaa Allah tabarokallah walhamdulillah.

Awalnya semua dilakukan sendiri dari mulai promosi,  packing,  sampe produksi.

Fokus menjalani bisnis membuat saya memberanikan diri ngajak ummahat untuk bantu packing dan produksi.

Setelah keuangan stabil dan orderan alhamdulillah berjalan saya beranikan lagi nyewa cs yang tugasnya balasin chat.

Jalan mulai terarah saya buka rumah produksi meski masih ngontrak semoga bisa ke beli rumah produksi..  Aamiin

Semua hal yang terjadi tentunya atas izin Allah dan ridho suami.

Alhamdulillah suami mendukung dan membantu bagian desain dan belanja

Banyak sekali yang menjadi keluhan

"Kenapa gak closing?"

Iya karna jarang promosi.

"Kenapa jarang promosi.?

Iya karna gak punya waktu.
Boro-boro buat posting
Urus anak aja masih keteteran.
Ayo ngaku siapa itu.

Kembali lagi ke niat kita.

Terjun dari awal sebagai penjual olshop itu sekedar iseng atau serius.
Nah,yang jadi pertanyaan

yang lain aja punya anak 3, suami 1 & repot malah ada yang sambil kerja honor masih bisa promosi ,closing banyak dll.

lalu apa sih yang salah dengan diri kita.

Semua ibu repot & sama2 punya kewajiban. Tapi yang lain bisa .

Kenapa saya engga?

Ya, mungkin managemen waktu kita yang salah atau mungkin gak punya.

Apa sih yang di maksud management waktu?

management waktu adalah bagaimana Anda mencari kombinasi paling tepat untuk porsi pekerjaan,  hobi,  keluarga, dan lain-lain.

Semakin terpenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dalam skala prioritas Anda, maka Anda pun akan semakin merasa bahagia.

Lalu apa sih Fungsi manajemen waktu?

Fungsinya adalah untuk perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktivitas waktu.

Manajemen waktu yang baik adalah dengan membuat data aktifitas atau pekerjaan dan menentukan skala prioritas dari setiap kegiatan atau pekerjaan.

Kapan promosi, kapan fast respon kapan beres-beres,kapan fokus anak, Dll.
Semuanya butuh data alias jadwal.

Lalu,ketika kita bilang gak ada waktu,sibuk dll.

Sudakah anda merancang data managemen waktu dengan baik?

Oke lah kita sama2 belajar mengatur waktu dengan sebaik-baiknya ya
Manajemen Waktu
Bisnis VS Keluarga

Kebanyakan orang berfikir bahwa dengan menjalankan bisnis sendiri maka kita memiliki jam kerja yang fleksibel dan bebas menentukan prioritas aktivitas. Bener ga?

Memiliki banyak waktu bersama keluarga pun dianggap sebagai keuntungan tersendiri bagi kita. Jika kita pelaku bisnis dari rumah.
Namun, ga sedikit pula pebisnis yang H²C..
Harap-harap cemas bahkan mengeluhkan sulitnya mengatur waktu antara bisnis dan keluarga.

Nah, terus gimana dong solusinya?

Kalau kita sudah mengambil keputusan untuk berbisnis  saat kita sudah membersamai keluarga, artinya kita sudah siap menyeimbangkan keduanya.

Dan agar terciptanya keseimbangan, banyak hal yang harus kita perhatikan, kita pelajari, dan kita lakukan.

Terlebih bagi kita yaa..

Yang baru terjun ke dunia bisnis, istilah kerennya newbie, yang membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengembangkan usahanya.

Ditambah peran kita yang saat ini adalah seorang ibu rumah tangga yang notabene memiliki sederet kewajiban lain.

Nah, sekarang bagaimana agar kedua peran tersebut dapat saling berjalan beriringan bahkan saling mendukung antara peran satu dengan lainnya?

Yuk, mari kita lakukan 6 hal berikut:
1. Susun Jadwal

Bisnis yang baru kita rintis memang perlu perhatian penuh, tetapi keluarga juga. Maka, susunlah jadwal pembagian waktu antara bisnis kita dan keluarga kita.

Baiknya bahkan saat menyusun jadwal tersebut, kita melibatkan seluruh anggota keluarga untuk memberi masukan dan menyampaikan pendapatnya. Setelah itu tempel jadwal tersebut di ruang keluarga atau lemari.
Hal ini akan membuat aktivitas bisnis kita nggak berbenturan dengan kepentingan keluarga. Dan setiap anggota keluarga akan memahami kalau di waktu-waktu tertentu kita fokus dengan bisnis kita.

Untuk penjadwalan bisnis pun harus kita lakukan. Kita infokan di toko kita atau bio Facebook,  kapan waktunya toko kita buka, kapan waktunya kita fastrespon ataupun slowrespon.

2. Disiplin

Disiplinlah pada jadwal yang sudah kita susun. Kapan waktunya kita perhatian penuh ke keluarga, kapan waktunya kita fokus pada bisnis kita. Dan diwaktu-waktu tersebut kita benar-benar maksimal pada peran kita.

3.Bangun Kebersamaan

Bagaimana cara kita membangun kebersamaan ini?

Yaitu kita harus mengkomunikasikan kepada seluruh anggota keluarga kita, suami, dan anak-anak kita.

Kita berikan pengertian kepada seluruh anggota keluarga bahwa bisnis yang kita lakukan adalah penting bagi kita dan keluarga.

Jelaskan mengapa kita perlu melakukan bisnis ini. Apa saja konsekuensinya terhadap kegiatan bersama keluarga.

Tak ketinggalan pula, kita jelaskan keuntungan-keuntungan yang bisa diraih dari bisnis ini.

4. Buat Ruang Kerja

Sekalipun tempat tinggal kita tak terlalu besar, buatlah tempat khusus ketika kita fokus pada bisnis kita. Hal ini penting, untuk menciptakan pemisahan secara fisik antara rumah dan pekerjaan.

Ga perlu ruang tersendiri, bisa dimana saja, di tempat yang kita sukai dan atmosfirnya mendukung proses bekerja kita.

5. Delegasi Tugas

Delegasikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan pada jam-jam kita harus fokus pada bisnis.

Berikan tanggungjawab sesuai usia dan kemampuan setiap anggota keluarga.

Berikan apresiasi atas setiap bantuan yang diberikan.

6.  Susun Target

Jangan sampai asyik berbisnis, target keluarga terabaikan.

Kita tentunya ga mau juga kan ketinggalan momen-momen penting bagi keluarga kita?

Buat rencana dan laksanakan.

Misalnya, target liburan, mendekor rumah, atau membeli aset tertentu.

Dengan menuliskan target-target tersebut, dan menjadwalkannya, kita dan keluarga kita akan mempunyai komitmen untuk mewujudkannya.

Pastikan semua anggota keluarga bekerja sama dan saling membantu untuk meciptakan keseimbangan antara bisnis kita dan keluarga kita.

Salah satu yang harus kita perhatikan adalah tetap berperan sebagai penstabil rumah tangga,termasuk di dalamnya memperhatikan kebutuhan hakiki suami dan anak-anak.

Bagaimana caranya?

🍁 Bangun Lebih Pagi

Salah besar jika bisnis dari rumah bisa dilakukan dengan santai.

Jika ingin hak pembeli dan hak keluarga tidak terabaikan, maka manfaatkanlah waktu dengan baik.

Bangunlah lebih pagi untuk mempersiapkan keperluan keluarga mulai dari makanan hingga perlengkapan lainnya.
Adalah konsekuensi logis, ketika bisnis sedang menanjak, ada waktu yang harus dikorbankan, diantaranya waktu tidur kita.

Siapkan Family Time

Jadwalkan waktu-waktu berkualitas bersama keluarga, waktu-waktu berlibur atau bersantai.

Banyak cara kreatif bahkan di waktu yang sangat singkat pun.

Diskusikan bersama seluruh anggota keluarga, kegiatan apa yang asyik kita lakukan bersama.

Bersantai akan membuat pikiran kita lebih fresh untuk memulai aktivitas bisnis kembali.

Bukan hanya dengan anak, dengan suami pun perlu ada komunikasi.

Bahkan komunikasi dengan suami sebaiknya dilakukan ketika kita masih merencanakan bisnis di awal-awal.

Berikan alasan yang masuk akal mengenai apa yang mendorong kita untuk berbisnis, tanpa mengenyampingkan urusan keluarga.

Yang jadi PR kita sekarang yang belum punya data/daftar waktu.

Yuk kita bikin sama-sama kapan waktu untuk keluarga, pribadi & bisnis.

Oiya  1 lagi

Contohnya  yang sering di lupakan waktu strategi posting promosi yang tepat

“Ngapain sih mau posting aja kudu pake strategi waktu posting,
posting ya posting aja kan, yang penting eksistensi gitu kan?”

Nah kadang masih banyak orang yang asal posting aja, padahal ini bagian terpenting berpromosi di Facebook Tanpa  waktu yang tepat apa yang dilakukan di Facebook akan percuma.

Hal penting untuk membuat postingan yang baik di Facebook salah satunya.

- Waktu posting yang tepat

Udah bikin konten yang bagus, tapi salah waktu posting, hasilnya gak bakal maksimal.

“Terus kalo mau posting baiknya jam berapa aja?”

Yang pasti jangan posting dini hari, lha siapa yang mau baca?

Kecuali kalo bahas pertandingan bola, yang emang banyak yang jadi ‘kalong’ kalo nonton pertandingan liga-liga eropa.

Ada jam jam paling efektif untuk posting status

Pagi : jam 7 – 9 (Waktu orang-orang sarapan dan masih santai)

Siang : jam 12 – 2 (Waktu orang-orang makan siang, istirahat siang)

Malam : Jam 7 – 10 (Jam segini orang-orang sudah santai, banyak stalking timeline)

Untuk frekuensi postingan, teman-teman bisa testing Misal  distatus pribadi 2x-3x sehari, di grup 1x sehari.

Jadi gitu yaaa..

Bagaimana cara kita mengelola waktu dikala bisnis kita harus berhadapan dengan keluarga.

Antara bisnis & urus keluarga menjalankan kewajiban menjadi ibu & istri.

ketika waktu bisa di taklukan kenapa enggak?

Jangan sampe waktu 24 jam masih kurang untuk sekedar posting branding diri & branding produk meski 1x sehari

Yuk, sama-sama perbaiki managemen waktu dan  jangan lupa konsisten disiplin.

Selamat praktek,
semoga bermafaat

Berkunjung Ke Taman Surga

Ibu-Ibu Sholiha, kita semua tentu ingin sekali bisa masuk ke surga-Nya Allah. Bisa bermain di taman-taman surga yang indah dan tentram. Berkumpul bersama orang-orang yang kita cinta dan mencintai kita.

Tahukah, Bu? Di dunia ini,  Allah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang, telah menyediakan kesempatan bagi kita untuk mencicipi taman-taman surga itu. Di manakah tamna surga dunia itu?

Pertama, berada di Raudhah, Masjid nabawi.

Jauh bu, ya. Perjuangan ke sana begitu besar. Banyak yang harus kita korbankan untuk bisa ke sana. Biaya umroh yang tidak murah, fisik yang kuat, dan waktu, dan lainnya.

Bahkan bu, saat kita sudah di sana berumroh, untuk masuk ke area raudhah, kita pun masih harus berjuang lagi. Antri panjang dengan jamaah lain, di dalam raudhah pun masih akan berdesakan lagi, waktu yang tersedia pun tidak panjang. Sudah berjuang besar masuk ke sana, dan saat di dalamnya pun kita hanya memiliki waktu yang singkat. Masya Allah, benar-benar harus berjuang, bu untuk bisa masuk taman surga dunia, di raudhah.

Memasuki taman surga dunia aja perjuangannya luar biasa, ya bu. Apalah lagi, masuk ke surga yang sesungguhnya. Harus bener-bener berjuang kita, iya kan.

Beruntungnya, Bu. Allah memberikan taman surga di dunia yang kedua, yang insya Allah lebih mudah kita memasukinta. Apa itu bu?

Taman surga yang kedua adalah Majelis Ilmu.

Ya, bu. Majlis-majlis ilmu. Baik yang online maupun offline. Pertemuan kita mengaji, taklim, pengajian, adalah taman-taman surga yang Allah sediakan bagi kita yang mau merasakan nikmatnya taman surga di dunia.

Tapi bu, ternyata juga tidak mudah memasukinya. Kita sendiri harus berjuang dengan diri kita sendiri. Berjuang melawan kemalasan, penundaan, dan kesibukan dunia kita, entah itu pekerjaan, keluarga, bisnis, biaya, dan lainnya.

Ternyata juga tidak mudah, ya bu. Meskipun majilis ilmu tersedia banyak saat ini, baik yang gratis ataupun berbayar, baik yang onlin maupun offline, tapi ternyata tidak semua orang mau memasukinya dengan hati yang lapang.

Ada yang datang dan masuk karena terpaksa, saat ada masalah, atau karena urusan dunia.

Niat kita tentu akan mempengaruhi ruhiyah, pikiran dan perasaan kita sendiri.

Semakin akhirat niat kita maka tentu, insya Allah, kita benar-benar akan bisa merasakan kenikmatan taman surga itu sendiri dari majlis-majlis ilmu yang kita hadiri.

Maka luruskan niat kita, Bu. Hadirlah, ikutilah, karena Allah saja. Majlis ilmu adalah taman surga. Di dalam ilmu ada cahaya. Dapatkan cahaya ilmu itu untuk menerangi kehidupan kita. Insya Allah bahagia akan kita peroleh sampai ke surga yang sesungguhnya

By: Sukmadiarti, Psikolog

Pasangan Terbaik Itu Adalah Pasanganku

Kita hendaknya bersyukur menjadi bagian dari pasangan hidup kita. Kekurangan kita dilengkapi oleh kelebihannya. Kelebihan kita melengkapi kekurangannya.

Ada satu masa mungkin di mana kita pernah merasa lebih darinya. Ingatlah. Bahwa masa itu bisa menjadi masa terburuk dalam hubungan kita. Saat-saat di mana kita dikuasai oleh ego dan kesombongan diri. Merasa diri lebih baik, berjasa, dan berkorban dibanding pasangan kita.

Masa kesombongan inilah yang seringkali menjadi masa terendah dalam sebuah pernikahan.

Pada dasarnya, kita semua saling mengisi satu sama lain. Jangan biarkan kesombongan mengalahkan keberkahan.

Hiduplah penuh syukur. Nikmati setiap kebersamaan. Isi dengan ketaqwaan. Raihlah kemuliaan dalam pernikahan kita.

Aku dan kamu, kita adalah pasangan terbaik yang Allah persatukan dalam ikatan suci, pernikahan. Jaga selalu kesuciannya, jaga selalu cintanya.