Senin, 28 Desember 2015

Materi parenting

Materi parenting dari berbagai ustad dan ustadzah, diantaranya ustad Fauzil Adhim, Budi Ashari Lc, Iwan Januar dan lain-lain. Semoga dapat memperkaya khasanah pendidikan anak Ayah Bunda.

Membentuk Idealisme Pada Anak -> http://bit.ly/1LOexUO

Mendidik Anak Tanpa Emosi -> http://bit.ly/1LOeEzJ

Hukum Aqiqah Anak Sudah Meninggal -> http://bit.ly/1LUU6ZZ

Durhaka pada Orang Tua , Menuai Petaka -> http://bit.ly/1LuhZG9

Belajar dari masa Kecil -> http://bit.ly/1OOAQQd

8 Panglima Hebat Islam -> http://bit.ly/1S3xWpi

Mencegah Sebelum Parrahhh -> http://bit.ly/1OZ7NYP

Siapa Yang Lebih didengar Anak Kita? -> http://bit.ly/1PKpInz

Remaja Tanpa Krisis Identitas -> http://bit.ly/1Lui4d3

Jika Ingin Melepas Anak Anda Pacaran -> http://bit.ly/1Lui7Wc

Anak Nakal itu Ada -> http://bit.ly/1k1Obaz

Jadilah Ayah Menyenangkan -> http://bit.ly/1OOB21U

Anak Perlu Belajar Mandiri -> http://bit.ly/1GzjiEF

Membiasakan Anak Bersilaturahmi -> http://bit.ly/205mChE

Ayah... Ternyata anda Penyebab Utamanya -> http://bit.ly/1OZ8iSH

Ajarkan Anak Bertahan, Bukan Menyerang -> http://bit.ly/1R5cn6O

Ayah Hebat Peduli Anak -> http://bit.ly/1POaMnA

Mengendong Dalam Penat -> http://bit.ly/1LUU7wR

Bersyukur Sebelum Tidur -> http://bit.ly/1KxNFqg

Peran Ideal Ayah -> http://bit.ly/1KxNFXr

Bersahabat Dengan Anak -> http://bit.ly/1k1OBxM

Katanya Anak Anugerah -> http://bit.ly/1LOff4l

Ayah, Ajaklah Anakmu Bermain -> http://bit.ly/1k1OJgF

Pentingnya Sirah Nabi SAW dan Sahabat bagi Anak -> http://bit.ly/1O62bgx

Agar Anak Respek Pada Orang Tua ->  http://bit.ly/1Mrddgg

Larangan yan dilarang, Larangan yang diperbolehkan -> http://bit.ly/1RA3fah

Menanamkan Adab Bicara Pada Anak -> http://bit.ly/1kOjG8N

Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini -> http://bit.ly/1P3sRgL

Mempersiapkan Anak Memasuki Usia Baligh -> http://bit.ly/1Gw71kE

Mengatasi Kemarahan Anak -> http://bit.ly/1GNfAHI

Manisa -> http://bit.ly/1LESVwr

Memahami Karakter ABG -> http://bit.ly/1WJlLUB

Ayah 'Bisu' -> http://bit.ly/1Qq0cmZ

Ilmuwan Cilik -> http://bit.ly/1RIUcUY

Tanggap Cerita Buruk dan Baik dari Anak -> http://bit.ly/1Sd4Nax

6 Cara Mendidik Anak Sholeh dan Sholehah dengan Tepat -> http://bit.ly/1klpgPX

Kisah hidup secara singkat Imam Syafii -> http://bit.ly/1jDDVVm

Tips Menanamkan Kewajiban Menuntut Ilmu pada Anak -> http://bit.ly/1O7SRU5

Tega Pada Anak itu Penting -> http://bit.ly/1NLTt7T

Kerjakan PR dirumah -> http://bit.ly/1NAgZyl

Buatlah Ibumu Tertawa -> http://bit.ly/1RaTRwZ

Silahkan share!.
Semoga menjadi amal jariyah.

Jumat, 25 Desember 2015

Hukum asuransi dalam pandangan Islam.

 Apa kira-kira, sob? Simak di halaman ini.

Sobat Nida, mungkin saat ini banyak orang yang hidup dalam kekhawatiran. Khawatir rumah kebakaran, mobil tergores, masa depan pendidikan anak-anak, dan lain-lain. Karena kekhawatiran yang biasanya membutuhkan biaya besar, muncul ide untuk menggunakan asuransi. Asuransi jadi back up plan kalau terjadi sesuatu yang tidak disangka dan tidak diharapkan terjadi di masa yang akan datang. Mulai dari asuransi konvensional yang sudah lebih dulu ngetren, sekarang pun muncul banyak asuransi syariah. Nah, sebenarnya bagaimana Islam memandang hal tersebut? Berikut ini ulasan Nida.

Asuransi dalam bahasa arab disebut at ta'min adalah akad yang tergolong baru dan belum muncul pada masa awal perkembangan fiqih Islam. Sehingga hal ini menjadi sebab asuransi dalam Islam menjadi perbincangan di kalangan ulama dan terbagi menjadi 2 pendapat, ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan.

Pendapat yang mengharamkan muncul karena beberapa alasan berikut,

1.Mengandung unsur gharar (unsur ketidak jelasan). Misalnya ketidakjelasan kapan nasabah menerima klaim karena tidak ada yang tahu kapan seseorang mendapat accident atau resiko.

2.Mengandung unsur qimar (judi). Bisa saja nasabah tidak mendapatkan accident sama sekali atau bisa pula terjadi sekali dan seterusnya.

3.Mengandung unsur riba fadhel (riba perniagaan karena adanya sesuatu yang berlebih) dan riba nasi'ah (riba karena penundaan) secara bersamaan.

4.Asuransi termasuk bentuk judi dengan taruhan terlarang, ini ada dalam bentuk premi yang ditanam.

5.Asuransi mengandung kegiatan memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Pihak asuransi mengambil harta, namun tidak selalu memberikan timbal balik.

6.Asuransi mengandung pemaksaan tanpa ada sebab yang syar'i. Seakan-akan nasabah memaksa accident terjadi, lalu nasabah mengklaim pihak asuransi untuk memberikan ganti rugi, padahal penyebab accident bukan dari mereka.

Di Arab Saudi sendiri terjadi banyak kecelakaan karena banyak yang sudah mengasuransikan kendaraannya. Kendaraan yang sudah diasuransikan menjadi salah satu sebab pemilik kendaraan santai saja saat berkendaraan dan bisa asal-asalan.

Dari kenyataan tersebut, muncul analisis hukum atau analisis sesuai syari'at Islam yang menyiratkan bahwa di dalam ajaran Islam termuat substansi perasuransian (asuransi syariah). Substansi yang dimaksud adalah prinsip tolong-menolong (Hadits riwayat Nukman bin Basyir ra., ia berkata: " Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam." (Shahih Muslim No.4685) dan prinsip perencanaan atau antisipasi terhadap musibah (QS. An Nisa':9). 

Hakikat asuransi syariah adalah saling bertanggungjawab, saling bekerja sama atau bantu-membantu, dan saling menanggung penderitaan satu sama lain. Dalam model asuransi syariah tidak ada perbuatan memakan harta manusia dengan bathil, karena apa yang telah diberikan adalah semata-mata sedekah dari hasil harta yang dikumpulkan. Selain itu, keberadaan asuransi syariah akan membawa kemajuan dan kesejahteraan pada perekonomian umat.

Prinsip-prinsip tersebut yang melahirkan fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001, yang menolak asuransi konvensional dan membolehkan asuransi syariah. Dalam penjelasannya, melarang perusahaan asuransi syariah untuk menginvestasikan dana peserta pada hal-hal yang diharamkan oleh syariat Islam.

Dalam menerjemahkan istilah asuransi ke dalam konteks asuransi Islam ada beberapa istilah, misalnya takaful (bahasa Arab), ta'min (bahasa Arab), dan Islamic insurance (bahasa Inggris). Istilah-istilah tersebut pada dasarnya tidak berbeda satu sama lain yang mengandung makna pertanggungan atau saling menanggung. Namun dalam prakteknya istilah yang paling populer digunakan sebagai istilah lain dari asuransi dan juga paling banyak digunakan di beberapa negara termasuk Indonesia adalah istilah takaful. Istilah takaful ini pertama kali digunakan oleh Dar Al Mal Al Islami, sebuah perusahaan asuransi Islam di Geneva yang berdiri pada tahun 1983. 

Istilah takaful dalam bahasa Arab berasal dari kata dasar kafala-yakfulu-takafala-yatakafalu-takaful yang berarti saling menanggung atau menanggung bersama. Kata takaful tidak dijumpai dalam Al-Qur’an, namun demikian ada sejumlah kata yang seakar dengan kata takaful, seperti misalnya dalam QS. Thaha (20): 40 “… hal adullukum ‘ala man yakfuluhu…”. Yang artinya ”… bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya (menanggungnya)?…”

Apabila kita memasukkan asuransi takaful ke dalam lapangan kehidupan muamalah, maka takaful dalam pengertian muamalah mengandung arti yaitu saling menanggung risiko di antara sesama manusia sehingga di antara satu dengan lainnya menjadi penanggung atas risiko masing-masing. Dengan demikian, gagasan mengenai asuransi takaful berkaitan dengan unsur saling menanggung risiko di antara para peserta asuransi, di mana peserta yang satu menjadi penanggung peserta yang lainnya. 

Wallahu a’lam.

Referensi: dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google

Bermanfaat artikel ini, silahkan berbagi

Jalan Hidup

Kalau disuruh milih ya..
Kita tidak akan mau punya masa lalu yang buruk..
Kita pasti ingin terlahir di tengah keluarga yang sudah kenal dengan sunnah,,yang diajarkan tentang sunnah sedari kecil..
Kita juga ingin orangtua kita tidak menentang jalan sunnah yang kita pilih..
.
Dan kembali lagi qadarullah..
Taqdir setiap orang berbeda-beda..
Berhentilah berkomentar kenapa kamu begitu.. Kenapa kamu begitu..
.
"Ih kamu ini ngga istiqomah.."
"Kenapa kamu buka lepas cadar begitu.."
"Lagi futur ya? Koq jilbabnya ngejreng-ngejreng gitu..?"
"Ah masa anak pengajian nikahannya pakai musik sama campur baur gitu..?"
dsb..
.
Nah lo kalian belum merasakan gimana susahnya punya orangtua yang menentang sunnah?
Mungkin memang ada di antara kita yang orangtuanya belum mengenal sunnah,,akan tetapi hatinya lebih lembut..
Mungkin memang banyak di antara kita yang beruntung orangtuanya sudah diberikan hidayah sunnah dan bahkan terlahir dikeluarga yang tidak awam dengan sunnah?
Mungkin banyak di antara kita yang belum pernah merasakan susahnya jungkir balik memperjuangkan sunnah di tengah keluarga yang belum faham..
Sampai di usir..
Sampai dipojokkan..
Dan sebagainya..
.
"Kamu nih akhlaqny kurang baik.. Makanya mungkin keluarga ngga menerima.."
"Coba deh dakwahkan begini..begitu.."
"Catatan kan tebal.. Sering ke majelis ta'lim.. Ya didakwahkan dong isiniya.."
.
Jadi plis ya..berkomentar kenapa dia begini-begitu..
Dia yang sudah kenal sunnah koq begitu..
Dia yang tidak istiqomah..
.
Yah berkomentar itu mudah..,karena memang yang berkomentar tidak merasakan..
Memberikan penilaian mah mudah,,tapi yang menilai belum tentu kuat kalau disuruh tukar posisi..
Memang ada yang bisa memilih dimana dan ditengah siapa ia dilahirkan dan hidup?
.
Jalan hidup orang berbeda-beda..
Keadaan hidup dan rintangan orang berbeda-beda..
Jadi tidak bisa disamakan kenapa dia begitu kenapa dia begini..

Rabu, 23 Desember 2015

DIBALIK BAIK SANGKA, ADA PELAJARAN BERHARGA

DIBALIK BAIK SANGKA, ADA PELAJARAN BERHARGA (sparkling eyes)(james wink)(moon grin)

Saat kita mengarungi kehidupan di dunia yang fana inilah, selayaknya orang yang beriman terus-menerus berprasangka baik kepada Allah. Rasulullah SAW senantiasa mendidik dan mengarahkan para sahabat agar berbaik sangka (ber-husnuzh-zhann) terhadap Allah SWT dan manusia di sekitar mereka, agar hati mereka tetap bersatu. Tiga hari menjelang wafat, Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah seseorang meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah SWT.” (HR Muslim)

Karena itu, pantaslah Allah berpesan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS al-Hujurat [49]: 12).

Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW tentang kemuliaan berprasangka baik kepada sang Khalik. ”Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman, Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim).

Karena dibalik prasangka baik pasti terdapat hikmah yang menarik. Berbaik sangka mendekatkan kita pada yang Maha Esa. Sebaliknya, berprasangka buruk membuat kita terpuruk. Berburuk sangka menyebabkan setan berkuasa di hati kita. (content)

Wallahu A’lam.

Cerpen- Kisah Kematian Yang Mengenaskan

Kisah Kematian Yang Mengenaskan

Seorang laki-laki mengalami koma selama tujuh hari. Beragam cara dilakukan untuk memulihkan kesadarannya, tapi semua usaha tersebut kandas.

Sang pemuda tetap taksadarkan diri, pun setelah dibacakan banyak ayat-ayat dan surat al-Qur’an, dibacakan doa-doa, dan lain sebagainya.

Setelah berlalu masa sepekan itu, sahabat baiknya mendatangi si pemuda di rumah sakit. Sebagai sahabat dekat, ia amat memahami kesukaan karibnya itu.

Maka, diputarlah sebuah aliran musik tepat di telinga si pemuda yang tengah koma.

Ajaib. Si pemuda menggerak-gerakkan anggota badannya seperti berjoget. Lalu, meninggal dunia.

Demikian inilah kematian yang mengenaskan. Seorang hamba akan dimatikan sebagaimana ia menjalani hidup. Dan kelak dibangkitkan sebagaimana kondisi kematiannya. Ngeri!!

Dikisahkan dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang nasib seorang pemabuk.

Para pemabuk itu, kelak akan dimatikan dalam keadaan menenggak minuman, obat, atau dalam kondisi mabuk; dunia, syahwat, dan sebagainya.

Di alam kubur, ia juga akan dibangkitkan dalam keadaan mabuk. Ketika kelak dimasukkan di dalam neraka, mereka pun berada di tempat khusus, di sebuah lembah bagi para pemabuk.

Tidak ditempatkan di sana, kecuali orang-orang yang memiliki kebiasaan mabuk di sepanjang kehidupannya.

Wasapadalah wahai diri. Jalani hidup dengan benar. Jangan terbiasa dengan hidup ala orang kafir, munafik, dan musyrik. Jauhi semua perbuatan dosa. Mulai dari yang kecil, beranjak ke yang lebih besar.

Teruslah berupaya hingga menggapai istiqamah di akhir hayat.
Bukankah kita menyaksikan begitu banyak orang yang mati dalam keadaan zina karena hidupnya dijalani dengan menjual aurat?

Tidak cukupkah kita melihat orang-orang yang mati dalam keadaan bergelimang dosa di tempat-tempat maksiat karena kesehariannya dihabiskan untuk mendurhakai Allah Ta’ala?

Ingatlah baik-baik. Seorang hamba tidak akan dimatikan dalam keadaan mabuk jika dia menjalani hidup dalam ketaatan dan tak pernah sekali pun menyentuh minuman keras.

Ia juga mustahil dimatikan dalam cengkeraman korupsi ketika dirinya tak pernah memakan harta haram meski serupiah pun.

Tidakkah malu, jika kelak kita dibangkitan di alam kubur dalam keadaan hina dan nista bergelimang dosa?

Tidakkah kita takut jika kelak mati dalam keadaan menonton tayangan tak bermoral sebab hidup sehari-hari pun dijalani dengan aktivitas seperti itu?

Mari memohon kepada Allah Ta’ala agar kita dikuatkan dalam melakukan amal-amal shalih di sepanjang hayat agar kelak dimatikan dalam keadaan beribadah, dan dibangkitkan di dalam kubur serta mahsyar dalam keadaan serupa itu. Aamiin.

TADABBUR : MASIHKAH PINTU ITU TERBUKA…?

TADABBUR : MASIHKAH PINTU ITU TERBUKA…?

Saat Zulaikha menutup seluruh pintu kamarnya, dia berpikir bahwa tak ada lagi celah bagi Yusuf untuk menolak ajakannya.

Namun Zulaikha lupa bahwa ada satu pintu yang tak bisa ia tutup. Yaitu pintu muroqabatullah yang terbuka lebar di hati Yusuf. Pintu yang mengilhami hati Yusuf untuk berkata, “Maadzallah”. Aku berlindung kepada Allah.

Masihkah pintu itu terbuka di hati kita. .?
Pintu yang akan selalu mengekang keinginan-keinginan liar kita disaat sendiri atau saat peluang untuk melakukan maksiat itu ada..?

Nasalullah assalamah wal aafiyah..

Oleh Ust. Aan Chandra Thalib

Tanya jawab. Bagaimana bila istri cemburu

Bagaimana kalau istri cemburuan?

Sebagaimana fenomena yang kita lihat dalam kehidupan tangga pada umumnya, tampaklah bahwa sifat cemburu itu sudah menjadi tabiat setiap wanita, siapapun orangnya dan bagaimanapun kedudukannya. Akan tetapi, hendaklah perasaan cemburu ini dapat dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga.

Berikut beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para isteri untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang berlebihan.

* Seorang isteri hendaklah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap pertengahan dalam hal cemburu terhadap suami. Sikap pertengahan dalam setiap perkara merupakan bagian dari kesempurnaan agama dan akal seseorang. Dikatakan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: ‘Hai ‘Aisyah, bersikaplah lemah-lembut, sebab jika Allah menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Dia menurunkan sifat kasih-Nya di tengah-tengah keluarga tersebut.’ Dan sepatutnya seorang isteri meringankan rasa cemburu kepada suami, sebab bila rasa cemburu tersebut melampaui batas, bisa berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, serta dapat menyulut api di hatinya yang mungkin tidak akan pernah padam, bahkan akan menimbulkan perselisihan di antara suami dan melukai hati sang suami. Sedangkan isteri akan terus hanyut mengikuti hawa nafsunya.

* Wanita pencemburu, lebih melihat permasalahan dengan perasaan hatinya daripada indera matanya. Ia lebih berbicara dengan nafsu emosinya dari pada pertimbangan akal sehatnya. Sehingga sesuatu masalah menjadi berbalik dari yang sebenarnya. Hendaklah hal ini disadari oleh kaum wanita, agar mereka tidak berlebihan mengikuti perasaan, namun juga mempergunakan akal sehat dalam melihat suatu permasalahan.

* Dari kisah-kisah kecemburuan sebagian isteri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, bisa diambil pelajaran berharga, bahwa sepatutnya seorang wanita yang sedang dilanda cemburu agar menahan dirinya, sehingga perasaan cemburu tersebut tidak mendorongnya melakukan pelanggaran syari’at, berbuat zhalim, ataupun mengambil sesuatu yang bukan haknya. Maka janganlah mengikuti perasaan secara membabi buta.

* Seorang isteri yang bijaksana, ia tidak akan menyulut api cemburu suaminya. Misalnya, dengan memuji laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekagumman terhadap laki-laki lain, baik pakaiannya, gaya bicaranya, kekuatan fisiknya dan kecerdasannya. Bahkan sangat menyakitkan hati suami, jika seorang isteri membicarakan tentang suami pertamanya atau sebelumnya. Rata-rata laki-laki tidak menyukai itu semua. Karena tanpa disadarinya, pujian tersebut bermuatan merendahkan ‘kejantanan’nya, serta mengurangi nilai kelaki-lakiannya, meski tujuan penyebutan itu semua adalah baik. Bahkan, walaupun suami bersumpah tidak terpengaruh oleh ungkapannya tersebut, tetapi seorang isteri jangan melakukannya. Sebab, seorang suami berat melupakan itu semua.

* Ketahuilah wahai para isteri! Bahwa yang menjadi keinginan laki-laki di lubuk hatinya adalah jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwamu. Tanamlah dalam dirimu bahwa tidak ada lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.

* Wahai para isteri! Jadikanlah perasaan cemburu kepada suami sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepadanya. Jangan menjadikan ia menoleh kepada wanita lain yang lebih cantik darimu. Berhias dirilah, jaga penampilan di hadapannya agar engkau selalu dicintai dan disayanginya. Cintailah sepenuh hatimu, sehingga suami tidak membutuhkan cinta selain darimu. Bahagiakan ia dengan seluruh jiwa, perasaan dan daya tarikmu, sehingga suami tidak mau berpisah atau menjauh darimu. Berikan padanya kesempatan istirahat yang cukup. Perdengarkan di telinganya sebaik-baik perkataan yang engkau miliki dan yang paling ia senangi.

* Wahai, para isteri! Janganlah engkau mencela kecuali pada dirimu sendiri, bila saat suamimu datang wajahnya dalam keadaan bermuram durja. Jangan menuduh ‘salah-kecuali pada dirimu sendiri, bila suamimu lebih memilih melihat orang lain dan memalingkan wajah darimu. Dan jangan pula mengeluh bila engkau mendapatkan suamimu lebih suka di luar daripada duduk di dekatmu. Tanyakan kepada dirimu, mana perhatianmu kepadanya’ Mana kesibukanmu untuknya’ Dan mana pilihan kata-kata manis yang engkau persembahkan kepadanya, serta senyum memikat dan penampilan menawan yang semestinya engkau berikan kepadanya’ Sungguh engkau telah berubah di hadapannya, sehingga berubah pula sikapnya kepadamu, lebih dari itu, engkau melemparkan tuduhan terhadapnya karena cemburu butamu.

* Dan ingatlah wahai para isteri! Suamimu tidak mencari perempuan selain dirimu. Dia mencintaimu, bekerja untukmu, hidup senantiasa bersamamu, bukan dengan yang lainnya. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ikutilah petunjuk-Nya dan percayalah sepenuhnya kepada suamimu setelah percaya kepada Allah yang senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya, lalu tunaikanlah yang menjadi kewajibanmu. Jauhilah perasaan was-was, karena setan selalu berusaha untuk merusak dan mengotori hatimu.

Allahu a'lam.
Jazaakillah khairan atas pertanyaannya.

(Ust. Miftahuddin, Tanya Jawab Kuliah Keluarga Sakinah kelas Jum'at pagi)