T: Kami sudah menikah 3 tahun namun belum dikarunia anak. Kami sama-sama bertubuh gemuk, adakah kaitannya dengan kesuburan?
J: Kegemukan berpengaruh pada kesuburan wanita maupun pria. Pada wanita, kegemukan berpengaruh terhadap gangguan metabolisme hormon, yang ada kaitannya dengan siklus haid. Sedangkan pada pria, kegemukan ada pengaruhnya terhadap temperatur skrotum, yang akan memengaruhi kuantitas dan kualitas sperma. Untuk itu, Jika Anda berencana memiliki keturunan, sebaiknya Anda berdua menurunkan berat badan lebih dulu.
Kamis, 31 Agustus 2017
Kegemukan Mempengaruhi Kesuburan
Resusitasi Neonatus
Prosedur resusitasi bayi baru lahir merupakan bagian dari asuhan Kala Dua untuk penolong tunggal
persalinan dan menjadi pelengkap untuk bayi dengan risiko tinggi Asfiksia.
Langkah-langkah dan kegiatan dalam melakukan tindakan prosedur resusitasi bayi baru lahir :
Persiapan
Langkah 1
Perlengkapan resusitasi harus selalu tersedia dan siap digunakan pada setiap persalinan. Penolong telah mencuci tangan dan mengenakan sarung tangan DTT/ steril. Persiapan lainnya adalah sebagai berikut:
1. Tempat resusitasi datar, rata, bersih, kering dan hangat
2. Tiga lembar handuk atau kain bersih dan kering
3. Alat pengisap lendir
4. Alat penghantar udara/ oksigen
5. Lampu 60 watt dengan jarak dari lampu ke bayi sekitar 60 cm
6. Jam
7. Stetoskop
Penilaian bayi baru lahir dan segera setelah lahir
Langkah 2
1. Sebelum lahir:
2. Segera setelah bayi lahir (jika bayi cukup bulan)
Sambil menempatkan bayi diatas perut atau dekat perineum ibu, lakukan penilaian (selintas):
Keputusan untuk melakukan resusitasi
Langkah 3
Lakukan resusitasi jika pada penilaian terdapat keadaan sebagai berikut:
1. Jika bayi tidak cukup bulan dan atau bayi megap-megap tak bernapas dan atau tonus otot bayi tidak baik. bayi lemas – Potong tali pusat, kemudian lakukan langkah awal resusitasi
2. Jika air ketuban bercampur mekonium:
Sebelum melakukan langkah awal resusitasi, lakukan penilaian, apakah bayi menangis atau bernapas/ tidak megap-megap.Jika menangis atau bernapas/ tidak megap-megap, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, kemudian lakukan langkah awal resusitasi.
Jika megap-megap atau tidak bernapas, lakukan pengisapan terlebih dahulu dengan membuka lebar, usap mulut dan isap lendir di mulut, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, kemudian dilakukan langkah awal resusitasi.
Tindakan resusitasi
Langkah awal
Sambil memotong tali pusat, beritahu ibu dan keluarga bahwa bayi mengalami masalah sehingga perlu dilakukan tindakan resusitasi, minta ibu dan keluarga memahami upaya ini dan minta mereka ikut membantu mengawasi ibu.
Langkah 4
Selimuti bayi dengan handuk/ kain yang diletakkan di atas perut ibu, bagian muka dan dada bayi tetap terbuka.
Langkah 5
Pindahkan bayi ke tempat resusitasi
Langkah 6
Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu (gunakan handuk/ kain yang telah disiapkan dengan ketebalan sekitar 3 cm dan dapat disesuaikan).
Langkah 7
Bersihkan jalan napas dengan mengisap lendir di mulut sedalam <5 cm dan kemudian hidung (jangan melewati cuping hidung).
Langkah 8
Keringkan bayi (dengan sedikit tekanan) dan gosok muka/ dada/ perut/ punggung bayi sebagai rangsangan taktil untuk merangsang pernapasan. Ganti kain yang basah dengan kain yang bersih dan kering. Selimuti bayi dengan kain kering, Bagian wajah dan dada terbuka.
Langkah 9
Reposisikan kepala bayi dan nilai kembali usaha napas.
Perhatikan, Langkah 4 s.d. 9 dilakukan dalam waktu <30 detik.
Langkah 10
Nilai hasil awal, buat keputusan dan lakukan tindakan:
• Jika bayi bernapas normal/ tidak megap-megap dan atau menangis, lakukan asuhan pasca resusitasi
• Jika bayi tidak bernapas spontan atau napas megap-megap, lakukan ventilasi.
Ventilasi
Langkah 11
Ventilasi dapat dilakukan dengan tabung dan sungkup ataupun dengan balon dan sungkup.
Jika menggunakan tabung dan sungkup:
1. Udara sekitar harus dihirup ke dalam mulut dan hidung penolong kemudian dihembuskan lagi ke jalan napas bayi melalui mulut-tabung-sungkup
2. Untuk memasukkan udara baru, penolong harus melepaskan mulut dari pangkal tabung untuk menghirup udara segar dan baru memasukkannya kembali ke jalan napas bayi (bila penolong tidak melepaskan mulutnya dari pangkal tabung, mengambil napas dari hidung dan langsung meniupkan udara, maka yang masuk adalah udara ekspirasi dari paru penolong)
3. Jika menggunakan balon sungkup udara dimasukkan ke bayi dengan meremas balon.
Langkah 12
Pastikan bagian dada bayi tidak terselimuti kain agar penolong dapat menilai pengembangan dada bayi waktu peniupan udara/ peremasan balon.
Langkah 13
Pasang sungkup melingkupi hidung, mulut dan dagu (perhatikan perlekatan sungkup dan wajah bayi).
Ventilasi Percobaan
Langkah 14
Tiup pangkal tabung atau remas balon 2 kali dengan tekanan 30 cm air mengalirkan udara ke jalan napas bayi
Perhatikan gerakan dinding dada
1. Naiknya dinding dada mencerminkan mengembangnya paru dan udara masuk dengan baik
2. Bila dinding dada tidak naik/ mengembang periksa kembali:
Ventilasi Definitif/ Lanjutan
Langkah 15
Setelah ventilasi percobaan berhasil maka lakukan ventilasi definitif dengan jalan meniupkan udara pada tabung atau meremas balon dengan tekanan 20 cm air, frekwensi 20 kali dalam waktu 30 detik.
Langkah 16
Lakukan penilaian ventilasi, buat keputusan dan lanjutan tindakan:
1. Jika bayi bernapas normal dan atau menangis, hentikan ventilasi kemudian lakukan asuhan pasca resusitasi
2. Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan tindakan ventilasi.
Langkah 17
Jika bayi belum bernapas spontan atau megap-megap, lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik selanjutnya dan lakukan penilaian ulang – lihat Langkah 16 bagian 1 dan 2, demikian selanjutnya
1. Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas dan resusitasi telah lebih dari 2 menit – nilai jantung, siapkan rujukan, lanjutkan ventilasi
2. Pada penilaian ulang hasil ventilasi berikutnya, selain penilaian napas lakukan juga penilaian denyut jantung bayi
3. Jika bayi tidak bernapas dan tidak ada denyut jantung, ventilasi tetap dilanjutkan tetapi jika hingga 10 menit kemudian bayi tetap tidak bernapas dan denyut jantung tetap tidak ada, pertimbangkan untuk menghentikan resusitasi.
Tindakan pasca resusitasi
Langkah 18
Bila resusitasi berhasil, lakukan:
1. Pemantauan tanda bahaya
2. Perawatan tali pusat
3. Inisiasi menyusu dini
4. Pencegahan hipotermi'
5. Pemberian vitamin K1
6. Pencegahan infeksi (Pemberian salep mata dan imunisasi hepatitis B)
7. Pemeriksaan fisik
8. Pencatatan dan pelaporan.
Langkah 19
Bila perlu rujukan:
1. Konseling untuk merujuk bayi beserta ibu dan keluarga
2. melanjutkan resusitasi
3. Memantau tanda bahaya
4. perawatan tali pusat
5. Mencegah hipotermi
6. Memberikan vitamin K1
7. Mencegah infeksi (pemberian salep mata)
8. Membuat surat rujukan
9. Melakukan pencatatan dan pelaporan
Jika saat merujuk keadaan bayi membaik dan tidak perlu resusitasi, berikan vitamin K1 serta salep mata dan susui bayi jika tidak ada kontra indikasi.
Langkah 20
Bila resusitasi tidak berhasil:
1. Melakukan konseling pada ibu dan keluarga
2. Memberikan petunjuk perawatan payudara
3. Melakukan pencatatan dan pelaporan.
Langkah 21
Lakukan pencegahan infeksi pada seluruh peralatan resusitasi yang digunakan:
1. Dekontaminasi, pencucian dan DTT terhadap tabung dan sungkup serta alat penghisap dan sarung tangan yang dipakai ulang
2. Dekontaminasi dan pencucian meja resusitasi, kain dan selimut
3. Dekontaminasi bahan dan alat habis pakai sebelum dibuang ke tempat aman.
Rekam medik tindakan resusitasi
Langkah 22
Catat secara rinci:
1. Kondisi saat lahir
2. Waktu dan langkah resusitasi
3. Hasil resusitasi
4. Keterangan rujukan apabila dirujuk.
Shalat Sunnah Rawatib
“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena amalan tersebut, ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga”(HR. Abu Dawud).
Ingin punya rumah di surga? Makanya ayo kita perbanyak shalat sunnah, salah satunya yaitu shalat rawatib. Apasih shalat rawatib itu? Shalat rawatib merupakan shalat yang dilakukan sebelum atau setelah shalat wajib. Rawatib dari segi bahasa diambil dari kata raatibah yang artinya kontinu dan terus menerus. Fungsinya untuk menambah dan juga menyempurnakan kekurangan dari shalat wajib kita.
“Sesungguhnya amal perbuatan manusia yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ialah tentang shalat . Tuhan berfirman kepada malaikat-Nya, sedang Ia Dzat yang Maha Mengetahui : Periksalah salat hamba-Ku, apakah sudah cukup atau kurang? Kalau cukup catatlah baginya cukup dan kalau kurang, maka Tuhan berfirman lagi : Periksalah! Adakah hamba-Ku mempunyai amalan salat sunat? Jika ternyata terdapat salat sunatnya, lalu Tuhan berfirman lagi : Cukupkanlah kekurangan salat fardhu hamba-Ku itu dengan salat sunatnya . Kemudian diperhitungkan amal perbuatan itu menurut cara demikian.” (HR. Abu Dawud).
Shalat rawatib terbagi menjadi: Shalat Rawatib Mu’aqqad (ditekankan), dengan Shalat Rawatib Ghairu Mu’aqqad (dianjurkan). Shalat Sunnat Rawatib Mu’aqqad jumlahnya 12 rakaat, berdasarkan hadits Aisyah ra. Ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :
“Barangsiapa yang secara konsekuen menjalankan dua belas raka’at shalat sunnah, akan dibangunkan baginya rumah di Syurga: Empat raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah Isya dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh ” (HSR. Tirmidzi)
Dan shalat sunnat rawatib ghairu mu’aqqad yaitu 4 rakaat setelah zhuhur, 4 rakaat setelah ashar, 2 rakaat sebelum maghrib.
Terus gimana sih caranya?
1. Dikerjakan sendiri-sendiri tidak berjamaah
2. Dianjurkan mengambil tempat shalat yang berbeda dengan tempat melakukan shalat wajib.
Rasulullah SAW bersabda :
“Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu untuk sekedar maju, mundur, ke kiri atau ke kanan dalam shalatnya (untuk shalat sunnat) ?”(HR. Abu Daud).
Imam Ash Han’ani ra mengungkapkan : “Para ulama telah menyatakan tentang dianjurkannya bagi seseorang untuk berpindah dari tempat melakukan ibadah wajib ke tempat lain untuk melakukan ibadah sunnah, bahkan yang lebih utama lagi bila ia langsung pindah ke rumahnya, karena melaksanakan ibadah sunnah di rumah itu lebih baik, atau paling tidak ke tempat lain di lokasi masjid itu sendiri, berarti memperbanyak tempat pelaksanaan shalat” (Lihat Subulussalam 3:183)
3. Shalat sunah rawatib dilakukan dua rokaat dengan satu salam.
4. Tidak didahului azan dan qomat
Nah itu sedikit penjelasan tentang shalat rawatib. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk selalu istiqomah untuk menjalankan ibadah kepada-Nya, aamiin.
Minggu, 30 Juli 2017
Di Seminar Motivasi Kerja, Ippho Santosa Ingatkan Soal Target
Seminar motivasi dan training karyawan sering dijadikan sarana demi mencapai target. Yah, boleh-boleh saja.
Dan inilah seruan saya kepada mereka, "Target mesti dikejar dengan sungguh-sungguh. Tak bisa diraih dengan berlambat-lambat dan bermalas-malasan. Seminar motivasi kerja dan seminar motivasi karyawan bukanlah segalanya."
Sekarang, coba Anda perhatikan ini. Banyak orang yang mengemudi lambat-lambat di jalan-raya. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, banyak pula orang yang mengemudi cepat-cepat di jalan-raya. Ngebut. Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah mereka yang ragu-ragu.
Banyak orang orang memutuskan untuk jadi karyawan. Sukseskah mereka? Mungkin saja. Nah, banyak pula orang yang memutuskan berhenti jadi karyawan, terus jadi pengusaha .
Sukseskah mereka? Mungkin juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah karyawan yang coba-coba jadi pengusaha tapi ragu-ragu.
Banyak orang yang menonton petinju yang bertanding di atas ring. Selamatkah mereka? Kemungkinan besar, selamat. Nah, ada pula satu-dua orang yang memutuskan untuk jadi petinju dan bertanding di atas ring.
Selamatkah mereka? Yah, selamat juga. Kedua-duanya selamat. Terus, siapa yang celaka? Yang celaka adalah penonton yang coba-coba jadi petinju tapi ragu-ragu. Bagaimana dengan Manny Pacquiao dan Floyd Mayweather? Hehehe, Anda jawab sendirilah.
Seorang perampok akan berhasil merampok ketika ia yakin. Sebaliknya, seorang ulama sekalipun, akan gagal berdakwah ketika ia ragu-ragu. Pembicara atau motivator, yah sama saja. Oleh karena itu, ambillah sebuah keputusan dengan yakin. Y-a-k-i-n. Itulah ciri seorang pemenang . Saat Anda ragu-ragu, sebenarnya Anda yakin untuk gagal. Wong sudah yakin saja masih gagal, apalagi kalau ragu-ragu? Bukankah begitu?
Ippho Santosa adalah International Trainer yang telah mencerahkan jutaan orang di belasan negara di empat benua. Buku terbarunya berjudul Success Protocol. Berbagai kementerian dan BUMN sering mengundangnya. Untuk mengundangnya in-house seminar, SMS 0812-704-9090.
By. Ippho santosa
RAGAM KELAINAN PLASENTA DAN TALI PUSAT
A. PLASENTA
1. Plasenta Previa
Artinya, plasenta menutupi jalan lahir. Seharusnya posisi plasenta ada di atas atau tepatnya di sisi atas lapisan Nitabuch /Desidua (selaput lendir rahim). Plasenta previa terjadi karena plasenta tidak mau menempel di
Nitabuch , lokasi bekas plasenta sebelumnya (kakaknya), bekas operasi, bekas terkena infeksi, atau pernah hamil kembar. "Dengan bahasa lain, plasenta menyukai dinding rahim yang masih mulus."
Gangguan ini bisa diketahui lewat USG sejak usia kandungan 17 minggu, walaupun sebenarnya ada kemungkinan letaknya berubah. Seiring bertambahnya usia kehamilan, plasenta bisa saja kembali ke posisi yang seharusnya. Bukan karena plasentanya berpindah, tapi pembesaran rahimlah yang membuat plasenta semakin tertarik ke atas. Sebaliknya, jika sampai usia kehamilan 36 minggu posisi plasenta masih tetap menutup jalan lahir, maka saat hari persalinan tiba, dokter akan melakukan tindakan sesar. Ini dilakukan demi keselamatan ibu maupun bayi.
Hanya saja, bagi ibu hamil yang telah terdeteksi mengalami plasenta previa disarankan tidak melakukan hubungan intim selama kehamilan, selain juga jangan terlalu capek, dan jika terjadi perdarahan harus segera ke dokter.
2. Plasenta Lengket
Ini adalah kasus yang cukup gawat karena bisa menyebabkan perdarahan yang berakhir dengan pengangkatan rahim. Pada keadaan ini, trofoblas atau jaringan-jaringan plasenta yang berfungsi mengangkut makanan dan oksigen untuk bayi tidak pada posisi seharusnya atau menempel dan berada di lapisan Nitabuch , tapi malah menembus lapisan Nitabuch hingga ke otot rahim.
Kasus plasenta lengket dibedakan menjadi tiga, yaitu plasenta pakreta, plasenta inkreta, dan plasenta perkreta. Untuk kasus plasenta perkreta jaringan atau pipa pembuluh darah plasenta sampai menembus ke usus. Tembusnya jaringan atau pipa-pipa pembuluh darah tersebut keluar Nitabuch bisa disebabkan banyak hal, yaitu ibu punya anak lebih dari lima (plasenta tidak mau berada di lapisan dinding rahim yang sudah rusak), sering dikuret, sering infeksi, sering keguguran, bekas sesar, pernah plasenta previa, atau pernah melakukan operasi miom.
Namun jangan panik, kasus ini bisa dideteksi sejak dini dengan USG berwarna, baik yang 2 dimensi maupun 4 dimensi. Namun demikian, dokter tetap tidak bisa mengubahnya. Jadi, USG hanya berguna sebagai alat pemantau. Jika semakin parah, ibu terpaksa dioperasi dan diangkat rahimnya. "Jika tidak, ibu akan mengalami perdarahan yang sangat hebat yang bisa menyebabkan kematian ibu dan jabang bayi." Sekalipun demikian, akan diusahakan untuk melakukan operasi setelah janin berusia 38 minggu.
3. Tumor Plasenta
Yang dimaksud adalah jika pada plasenta terdapat benjolan. Menurut Judi, tumor yang ganas bisa merusak dan menembus Nitabuch, lalu berkembang hingga ke bagian luarnya. Untuk menghilangkannya, kandungan ibu bisa-bisa harus diangkat. Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui penyebab munculnya tumor pada plasenta. Begitu pula, belum ditemukan obat yang bisa menghalaunya, kecuali dilakukan operasi berbarengan saat melahirkan. Sekalipun begitu, tumor plasenta bisa dideteksi sejak usia kandungan 18 minggu dengan USG dua dimensi.
Bila tumornya besar/ganas tentu saja berdampak bukan cuma pada ibu, tapi juga pada si bayi. Misalnya, terjadi perdarahan, gangguan aliran darah ke bayi, atau penyebaran keganasan.
Persalinannya bisa ditunggu sampai cukup bulan, juga bisa lewat jalan lahir normal. Bila tumor tersebut menghalangi jalan lahir atau terjadi gawat janin akibat gangguan aliran darah, persalinan dilakukan lewat operasi sesar.
4. Plasenta Kembar atau Bilobata
Kasus plasenta kembar bisa menyebabkan perdarahan kala ibu memenjalani persalinan. Pasalnya, dokter/bidan yang menangani biasanya tidak mengira ibu memiliki dua plasenta, sehingga setelah plasenta pertama keluar menyusul kelahiran bayi, plasenta satunya dibiarkan tertinggal di dalam. Inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan, infeksi, dan ukuran rahim tetap besar sekalipun telah lewat 40 hari.
Fungsi si kembar ini sama dengan plasenta umumnya, yaitu menyuplai makanan ke bayi. Penyebabnya sendiri hingga saat ini tidak ada yang tahu. Namun, ibu tetap bisa melahirkan secara normal jika letak kedua plasentanya di atas.
Sekalipun bisa dideteksi dengan USG, baik dokter atau bidan yang menolong persalinan harus meneliti bentuk plasenta ibu. Jika di situ ditemukan selaput ketuban, baik ada atau tidak ada pembuluh darah yang putus, berarti semuanya oke. Namun jika sebaliknya, kemungkinan ada kembaran plasenta yang masih tertinggal di dalam.
B. TALI PUSAT
1. Di Luar Ukuran Normal
Umumnya, panjang tali pusat berkisar antara 55 hingga 60 cm. Kelainan ukuran biasanya ditandai jika panjangnya kurang dari 50 cm dan lebih dari 70 cm. Tali pusat terpendek yang pernah dilaporkan adalah sepanjang 2,5 cm. Sedangkan yang terpanjang pernah ditemui sekitar 300 cm.
Tali pusat terlalu pendek atau terlalu panjang tidak berpengaruh terhadap pemberian makanan dan oksigen pada janin. Akan tetapi, tali pusat yang terlalu pendek atau terlalu panjang dan melilit dapat mempersulit proses persalinan. "Pada saat persalinan, janin yang sudah turun ke jalan lahir biasanya naik lagi karena tertahan tali pusat ini. Tiap kali janin akan turun, tali pusat semakin kuat menahan. Ini biasanya terlihat selama proses persalinan, dengan tidak terjadinya kemajuan pada penurunan janin. Pada keadaan yang ekstrem dapat terjadi terlepasnya plasenta sebelum janin lahir
· Tali Pusat Pendek
Kasus ini sekalipun tidak terlalu berat, belum bisa terdeteksi oleh alat canggih manan pun. Penyebabnya, kata Judi, tali pusat di dalam rahim melilit-lilit, sehingga sangat tidak mungkin untuk diukur dari luar.
Panjang tali pusat, normalnya 50-60 cm. Bila di bawah 40 cm berarti pendek. Nah, jika kasusnya seperti ini, mau tidak mau proses persalinan harus dilakukan dengan cara sesar karena bayi tidak akan bisa mencapai jalan lahir. Kecuali kalau tali pusatnya berada di bawah, si bayi bisa dilahirkan normal. "Bila plasenta berada di atas dan bayi dipaksa keluar lewat jalan lahir, maka rahim bisa ikut tertarik atau inversio uteri." Di Indonesia kasus ini cukup banyak ditemukan.
· Tali Pusat Panjang
Sebaliknya, tali pusat dikatakan panjang jika lebih dari 60 cm. Ukuran ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena persalinan bisa dilakukan secara normal. Bahaya baru terjadi jika tali pusat yang panjang itu melilit leher janin.
Kasus seperti ini untungnya bisa dideteksi dengan alat USG dua dimensi. Lagi pula, belum tentu lilitan itu berlangsung hingga waktu persalinan tiba, karena janin di dalam rahim selalu bergerak, sehingga ada kemungkinan ia terlepas dari lilitan. Hanya saja, setelah itu masih ada kemungkinan ia akan terlilit lagi.
2. Kelainan Insersi
Insersi adalah tempat masukan (muara) yang menempel ke plasenta. Normalnya, insersi tali pusat di plasenta terletak di tengah. Tetapi dalam keadaan tertentu terjadi insersi tali pusat yang letaknya di tepi plasenta (plasenta battledore) dan insersi tali pusat letaknya jauh di luar plasenta, yaitu di daerah membran (insersi velamentosa).
· Insersi tali pusat Battledore
Pada kasus ini tali pusat terhubung ke paling pinggir plasenta seperti bet tenis meja. Insersi yang terletak di tepi plasenta tidak berpengaruh buruk pada janin sebab pada umumnya dalam hal pemberian makanan dan oksigen ke janin tidak berpengaruh. Kondisi ini tidak bermasalah kecuali sambungannya rapuh.
· Insersi tali pusat Velamentous
Tali pusat berinsersi ke dalam membran agak jauh dari pinggir plasenta. Pembuluh darah umbilikus melewati membran mulai dari tali pusat ke plasenta. Bila letak plasenta normal, tidak berbahaya untuk janin, tetapi tali pusat dapat terputus bila dilakukan tarikan pada penanganan aktif di kala tiga persalinan.
I nsersi velamentosa bisa berbahaya bila terjadi vasa previa, jika ketuban pecah, dan pembuluh darah tersebut ikut pecah yang berarti pula terjadi perdarahan dari janin. Gejala klinis vasa previa adalah ketuban pecah diikuti perdarahan, dan terjadi gawat janin. Kematian janin pada pecahnya vasa previa mencapai 60-70%. "Kematian pada janin ini disebabkan perdarahan yang berasal dari janin dan keterlambatan mengetahui bahwa perdarahan berasal dari vasa previa. Umumnya bila pada pemeriksaan dijumpai adanya vasa previa, kehamilan diakhiri dengan bedah sesar sebelum terjadi pecahnya selaput ketuban
3. Kelainan Diameter
Yang dimaksud diameter tali pusat adalah ukuran besar tali pusat. Tak dapat dipastikan berapa sebenarnya ukuran normal karena pada setiap bayi berbeda-beda. Lagi pula lebar diameter ini tidak dapat dipatok dengan ukuran sentimeter, karena belum ada metode khusus untuk mengukur diameter tali pusat. Umumnya besar diameter sesuai dengan perkembangan bayi "Contoh, bila bayinya besar, tentu diameter tali pusatnya besar. Sedangkan bila janin kecil, dengan sendirinya diameter tali pusatnya sesuai ukuran tubuhnya. Yang menjadi problem, bila diameter tali pusatnya dianggap kekecilan untuk ukuran janin karena dapat berpengaruh pada penyaluran oksigen dan darah." Pada janin dengan perkembangan yang terhambat biasanya diameter tali pusatnya juga kecil.
Metode khusus untuk mengetahui apakah aliran darah tali pusat cukup atau kurang adalah dengan cara pemeriksaan dopler aliran darah tali pusat. Bila aliran darah tali pusat terhambat, bisa menimbulkan gangguan perkembangan pada janin.
4. Terlilit Tali Pusat
Lilitan tali pusat umumnya terjadi sebelum kehamilan cukup besar. Paling sering pada trimester kedua dimana bayi masih bisa bergerak dengan aktif dan leluasa. Bahkan terkadang melakukan gerakan ekstrem seperti bersalto. Bila tali pusatnya panjang, kemungkinan dapat terjadi lilitan tali pusat. Lilitan tali pusat ini bisa terjadi di leher, di bahu atau di lengan dan tidak selalu berakibat buruk.
Adanya lilitan tali pusat di leher dalam kehamilan pada umumnya tidak menimbulkan masalah. Namun dalam proses persalinan dimana mulai timbul kontraksi rahim dan kepala janin mulai turun dan memasuki rongga panggul, maka lilitan tali pusat menjadi semakin erat dan menyebabkan penekanan atau kompresi pada pembuluh-pembuluh darah tali pusat. Akibatnya, suplai darah yang mengandung oksigen dan zat makanan ke janin akan berkurang, yang mengakibatkan janin menjadi sesak atau hipoksia.
Namun jika lilitan tali pusat terjadi berkali-kali, sementara tali pusatnya tidak panjang, ini yang bisa berdampak buruk pada bayi. Sebab saat bayi turun ke bawah, tali pusat bisa menahannya untuk turun. "Umumnya dokter langsung memutuskan untuk sesar."
Lilitan tali pusat pada leher sangat riskan, apalagi bila terjadi lilitan beberapa kali. "Dapat diperkirakan bahwa makin masuk kepala janin ke dasar panggul, makin erat lilitan tali pusat dan makin terganggu aliran darah menuju dan dari janin."
Meski lilitan tali pusat dapat diketahui lewat pemeriksaan USG, dokter dapat saja membiarkan sampai proses persalinan tiba. "Karena lilitan tali pusat tidak bisa dilepas. Yang dilakukan dokter adalah memantau dan memberitahu si ibu."
Lilitan tali pusat di leher sekalipun tak harus berujung pada sesar. "Tapi proses persalinan dipantau ketat. Dalam persalinan kala satu, observasi denyut jantung dengan alat kardiotokografi sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi gangguan pola denyut jantung janin." Bila pola denyut jantung terganggu, persalinan diakhiri dengan bedah sesar. Karena jika dipaksa lahir dengan normal, bisa berdampak buruk pada janin.
Kemungkinan sebab lilitan tali pusat pada janin :
· Usia kehamilan
Kematian bayi pada trimester pertama atau kedua sering disebabkan karena puntiran tali pusat secara berulang-ulang ke satu arah. Ini mengakibatkan arus darah dari ibu ke janin melalui tali pusat tersumbat total. Karena dalam usia kehamilan tersebut umumnya bayi masih bergerak dengan bebas. Hal tersebut menyebabkan kompresi tali pusat sehingga janin mengalami kekurangan oksigen.
· Polihidramnion kemungkinan bayi terlilit tali pusat semakin meningkat.
· Panjangnya tali pusat
Dapat menyebabkan bayi terlilit. Panjang tali pusat bayi rata-rata 50 sampai 60 cm. Namun, tiap bayi mempunyai panjang tali pusat berbeda-beda. Panjang pendeknya tali pusat tidak berpengaruh terhadap kesehatan bayi, selama sirkulasi darah dari ibu ke janin melalui tali pusat tidak terhambat.
Tanda-Tanda Bayi Terlilit Tali Pusat :
Beberapa hal yang menandai bayi terlilit tali pusat, yaitu:
· Pada bayi dengan usia kehamilan lebih dari 34 minggu, namun bagian terendah janin (kepala atau bokong) belum memasuki pintu atas panggul perlu dicurigai adanya lilitan tali pusat.
· Pada janin letak sungsang atau lintang yang menetap meskipun telah dilakukan usaha untuk memutar janin (Versi luar/knee chest position) perlu dicurigai pula adanya lilitan tali pusat.
· Dalam kehamilan dengan pemeriksaan USG khususnya color doppler dan USG 3 dimensi dapat dipastikan adanya lilitan tali pusat.
· Dalam proses persalinan pada bayi dengan lilitan tali pusat yang erat, umumnya dapat dijumpai dengan tanda penurunan detak jantung janin di bawah normal, terutama pada saat kontraksi rahim.
5. Berbenjol – Benjol
Lazimnya, tali pusat seperti selang yang licin dan mulus. Tapi adakalanya ditemui tali pusat yang berbenjol-benjol dengan banyak simpul atau sedikit terpuntir. Umumnya disebabkan gerakan janin yang begitu aktif sehingga terjadi simpulan yang berulang kali.
Bila simpul-simpul ini masih membentuk rongga tak akan jadi masalah sebab pasokan oksigen dan nutrisi masih dapat diterima janin. Yang jadi masalah, apabila simpul-simpul ini sedemikian eratnya sehingga menutup sama sekali pembuluh darah, maka dapat berdampak pada kematian janin dalam rahim. Kejadian ini sangat jarang karena umumnya gerakan bayi yang berpindah terus justru bisa membuka simpul-simpul pada tali pusat.
6. Lama Waktu Terlepasnya Tali Pusat
Tali pusat orok berwarna kebiru-biruan dan panjang sekitar 2,5 – 5 cm segera setelah dipotong. Penjepit tali pusat digunakan untuk menghentikan perdarahan. Penjepit tali pusat ini dibuang ketika tali pusat sudah kering, biasanya sebelum ke luar dari rumah sakit atau dalam waktu dua puluh empat jam hingga empat puluh delapan jam setelah lahir. Sisa tali pusat yang masih menempel di perut bayi (umbilical stump), akan mengering dan biasanya akan terlepas sendiri dalam waktu 1-3 minggu, meskipun ada juga yang baru lepas setelah 4 minggu.
Tali pusat sebaiknya dibiarkan lepas dengan sendirinya. Jangan memegang-megang atau bahkan menariknya. Bila tali pusat belum juga puput setelah 4 minggu, atau adanya tanda-tanda infeksi, seperti; pangkal tali pusat dan daerah sekitarnya berwarna merah, keluar cairan yang berbau, ada darah yang keluar terus- menerus, bayi demam tanpa sebab yang jelas maka kondisi tersebut menandakan munculnya penyulit pada neonatus yang disebabkan oleh tali pusat.
Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Lamanya Lepasnya Tali Pusat
Lepasnya tali pusat dipengaruhi oleh beberapa ha diantaranya adalah :
· Timbulnya infeksi pada tali pusat
disebabkan karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan, misalnya pemotongan tali pusat dengan bambu/ gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusat dibubuhi abu, tanah, minyak, daun-daunan, kopi dan sebagainya.
· Cara perawatan tali pusat
Penelitian menunjukkan bahwa tali pusat yang dibersihkan dengan air dan sabun cenderung lebih cepat puput (lepas) daripada tali pusat yang dibersihkan dengan alkohol.
· Kelembaban tali pusat
Tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi.
· Kondisi sanitasi lingkungan sekitar neonatus
Spora C. tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
7. Infeksi Tali Pusat ( Tetanus Neonatorum )
Adalah penyakit yang diderita oleh bayi baru lahir (neonatus). Tetanus neonatorum penyebab kejang yang sering dijumpai pada BBL yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia, tetapi disebabkan infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi akibat pemotongan tali pusat atau perawatan tidak aseptic (Ilmu Kesehatan Anak, 1985)
Penyebabnya adalah hasil klostrodium tetani (Kapitaselekta, 2000) bersifat anaerob, berbentuk spora selama diluar tubuh manusia dan dapat mengeluarkan toksin yang dapat mengahancurkan sel darah merah, merusak lekosit dan merupakan tetanospasmin yaitu toksin yang bersifat neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot. (Ilmu KesehatanAnak,1985)
Penyebab tetanus neonatorum adalah clostridium tetani yang merupakan kuman gram positif, anaerob, bentuk batang dan ramping. Kuman tersebut terdapat ditanah, saluran pencernaan manusia dan hewan. Kuman clostridium tetani membuat spora yang tahan lama dan menghasilkan 2 toksin utama yaitu tetanospasmin dan tetanolysin.
8. Pembuluh Darah Dalam Tali Pusat Kurang
Normalnya, tali pusat memiliki tiga pembuluh darah; dua pembuluh darah arteri dan satu pembuluh darah vena. Nah, kalau salah satunya tidak ada, maka janin kemungkinan mengalami kelainan kromosom. Hal ini akan mengakibatkan bayi yang dilahirkan mengalami kelainan pula, seperti retardasi mental, Sindroma Down, hingga jantung bocor.
9. Tumor Tali Pusat
Tumor pada tali pusat sering berkaitan dengan kelainan bawaan (kromosom) pada janin. Bila bayi ditemukan cacat berat, sebaiknya bayi tersebut dilahirkan secepatnya.
Sekalipun begitu benjolan pada tali pusat yang merupakan tumor biasanya sudah bisa dideteksi sejak dini lewat USG.
Adaptasi Psikologi Masa Nifas
1. Proses adaptasi menurut teori Mercer
a. Ante partum stress
Dapat terjadi akibat komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dalam hidup.
b. Pencapaian peran ibu
Membutuhkan pendekatan yang kompeten termasuk peran dalam mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran. Peran aktif wanita sebagai ibu dan pasangannya berinteraksi satu dengan yang lain.
Mercer menguraikan 4 step dalam pelaksanaan peran ibu :
1) Anticipatory
Adalah suatu masa dimana wanita memulai penyesuaian sosial dan psikologis terhadap peran barunya klien mempelajari apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.
2) Tahap formal
Peran sesungguhnya seorang ibu mulai.Pada masa ini bimbingan peran secara formal dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sistem sosial dari wanita.
3) Tahap informal
Mulai pada saat wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan peran ibu yang tidak disampaikan oleh sosial sistem.
4) Tahap personal
3 bulan sampai 7 bulan post partum tahap akhir pencapaian peran ini. Pada tahap ini wanita telah mahir melaksanakan perannya sebagai ibu. Ia telah mampu menentukan caranya sendiri dalam melaksanakan peran barunya ini.
2. Proses adaptasi menurut teori Reva Rubin
Tujuan Rubin adalah mengidentifikasi bagaimana seorang wanita mencapai peran menjadi seorang ibu beserta intervensi-intervensi yang memungkinkan menimbulkan efek negatif. Penelitian ini dilakukan dengan bantuan mahasiswa. Dilakukan wawancara langsung san via telefon. Subjek penelitian didapatkan dari klinik antenatal dan postnatal. data yang berkaitan dengan masalah yang timbul dalam pencapaian peran ibu diberikan kode kemudian dianalisis.
a. Tahapan Psikososial
Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
1) Fase Taking In
Yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu sedang berfokus pada dirinya sendiri. Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir. Ketidaknyamanan fisik yang sering dialami ibu pada fase ini adalah rasa mules, nyeri pada jahitan, kurang tidur dan kelelahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
2) Fase Taking Hold
Yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, timbul rasa khawatir pada ibu akan ketidakmampuan dan rasa tanggungjawabnya dalam merawat bayi. Ibu mempunyai perasaan sensitif sehingga mudah tersinggung dan gampang marah.
3) Fase Letting Go
Yaitu periode menerima tanggung jawab akan peran bayinya. Fase ini berlangsung setelah 6 hari. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Ibu memahami bahwa bayi butuh disusui sehingga siap terjaga untuk memenuhi kebutuhan bayinya.
b. Periode aktifitas sebelum menjadi seorang ibu
Periode post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru, bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat.
Faktor – faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada masa post partum adalah :
1) Respon dan dukungan dari keluarga dan teman
2) Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi
3) Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
4) Pengaruh budaya
5) Periode ini diuraikan oleh Rubin terjadi dalam 3 tahap, taking in, taking hold dan letting go
3. Depresi postpartum
a. Postpartum blues / Baby blues
Keadaan dimana ibu merasa sedih berkaitan dengan bayinya disebut baby blues. Penyebabnya antara lain: perubahan perasaan saat hamil, perubahan fisik dan emosional. Perubahan yang ibu alami akan kembali secara perlahan setelah beradaptasi dengan peran barunya.
Gejala baby blues antara lain:
1) Menangis
2) Perubahan perasaan
3) Cemas
4) Kesepian
5) Khawatir dengan bayinya
6) Penurunan libido
7) Kurang percaya diri
b. Depresi postpartum
Depresi postpartum disebut juga dengan sindrom depresif non psikotik pada kehamilan sampai beberapa minggu/bulan setelah kelahiran.
Gejala-gejala depresi berat antara lain:
1) Perubahan mood
2) Gangguan tidur dan pola makan
3) Perubahan mental dan libido
4) Pobhia, ketakutan menyakiti diri sendiri atau bayinya
Penatalaksanaan depresi berat adalah sebagai berikut:
1) Dukungan keluarga dan sekitar
2) Terapi psikologis
3) Kolaborasi dengan dokter
4) Perawatan rumah sakit
5) Hindari rooming in dengan bayinya
c. Postpartum psikosa
Insiden psikosis post partum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam masa kehamilan 20-30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa hari sampai 4-6 minggu post partum.
Gejala psikosis post partum sebagai berikut:
1) Gaya bicara keras
2) Menarik diri dari pergaulan
3) Cepat marah
4) Gangguan tidur
Penatalaksanaan psikosis post partum adalah:
1) Pemberian anti depresan
2) Berhenti menyusui
3) Perawatan di rumah sakit
4. Rangkuman
Ada 2 pokok pembahasan dalam teori Mercer yaitu efek ante partum stress dapat terjadi akibat komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dalam hidup. Periode post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru, bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat. Faktor – faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada masa post partum adalah :respon dan dukungan dari keluarga dan teman, hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi, pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu, pengaruh budaya. Periode ini diuraikan oleh Rubin terjadi dalam 3 tahap, taking in, taking hold dan letting go.
Keadaan dimana ibu merasa sedih berkaitan dengan bayinya disebut baby blues. Penyebabnya antara lain: perubahan perasaan saat hamil, perubahan fisik dan emosional. Perubahan yang ibu alami akan kembali secara perlahan setelah beradaptasi dengan peran barunya.
D. Daftar Bacaan Tambahan
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (p: 87-96).
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (p: 63-69)
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (p: 85-100).
Jumat, 14 Juli 2017
SHOLAT CERMIN KEHIDUPAN KITA
*Renungan Pagi:*
Barangsiapa terbiasa menunda sholat, maka ia harus siap tertunda dalam segala urusan kehidupannya : nikah, pekerjaan, keturunan, kesehatan, kemapanan, petunjuk dan lain-lain.
Hasan al-Bashri berkata :
أَيُّ شَيْءٍ يَعِزُّ عَلَيْكَ مِنْ دِينِكَ إِذَا هَانَتْ عَلَيْكَ صَلَاتُكَ وَأَنت أول مَا تسْأَل عَنْهَا يَوْم الْقِيَامَة
"Apa yang berharga dari agamamu jika sholatmu saja tidak berharga bagimu? Padahal pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepadamu pada hari kiamat adalah tentang sholat."
Seperti apa kamu mampu memperbaiki sholatmu, seperti itulah kamu akan mampu memperbaiki hidupmu.
Tidakkah kamu tahu bahwa sholat itu bergandengan dengan kesuksesan?
"Hayya 'alas sholah ... hayya 'alal falaah .." artinya : "Marilah melakukan sholat, marilah meraih kesuksesan."
Bagaimana mungkin kamu minta kesuksesan kepada Allah, sedangkan kamu tidak menunaikan hakNya?
استغفرالله العظيم
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang mendirikan sholat tepat pada waktunya. Semoga kita selalu mendapat Ridho & Pertolongan-Nya , Aamiin
Semoga Menjadi Ilmu yang Barokah dan Bermanfaat, Aamiin.