Jumat, 23 Agustus 2019

Deteksi Diri Anda

Dr. Firanda Andirja

Deteksi Diri Anda...

Ciri-ciri anda terjangkiti hasad kepada si dia:

Jika dia mendapat kenikmatan,
maka sesak dada anda…

Jika ia dipuji orang lain,
maka anda tidak suka…

Jika dia terkena musibah atau dijatuhkan oleh orang lain,
serasa ada secercah kebahagiaan di hati anda…

Jika dia dijatuhkan atau dighibahi dihadapan anda,
maka berat bagi anda untuk membelanya…

Solusi :

Berdoa kepada Allah agar penyakit anda ini hilang…

Usahakan memuji dia,
paksakan diri anda melawan nafsu hasad…

Kalau perlu, kunjungi rumahnya,
dan bawakan hadiah buat dia…

Ingat,
bahwa hasad anda sama sekali tidak bakalan menjatuhkan dirinya,
sama sekali tidak memberi kemudorotan kepadanya,

justru andalah yang tersiksa !!,
merana..!!

Ajari Anakmu Berdoa untuk Orang Lain

Hidup tanpa bersandar kepada Allah menanda kesombongan yang tiada terkira. Apakah kita lalai bahwa segala yang terjadi tak lepas dari kehendak Nya?
Bahkan sehebat apa pun diri kita, secerdas apa juga otak kita akan berbatas dengan ketetapan Allah.

Membimbing anak kita menjadi generasi yang bisa menjalani kebaikan tak sedikit perjuangan yang harus kita lakukan. Bahkan membiasakan anak berdoa dan menggantungkan segala harapan pada penentu kehidupan menjadi penting bagi para orang untuk dilakukan.

Seperti apa kita sebagai orang tua harus mengajari anak kita berdoa? Seberapa sering kita memberikan wejangan tentang kekuatan doa? Anak kita itu mudah meniru dan mengikuti kita bila keteladanan dikedepankan.

Bagaimana agar Anak pun mau berdoa.

1. Sebagai orang tua pun perlu menunjukkan seperti apa dirinya berdoa. Seperti usai shalat dan setiap keadaan yang mana doa itu akan terkabulkan.

2. Bercerita tentang banyak keajaiban bila kita perbanyak doa dengan menyebut-nyebut apa yang diharapkan. Dan seketika kita mengalami peristiwa seketika itu pula ceritakan dengan penuh rasa syukur.

3. Mengajarkan adab berdoa dengan seksama dan mengulang-ulang karena tabiat anak sering lalai dan butuh dituntun terus menerus.

4. Menyampaikan bahwa doa itu senjata umat Islam. Kita bisa bercerita tentang sejarah di masa Rasulullah tentang kekuatan doa sehingga Rasulullah pun meraih kemenangan.

5. Jangan pernah putus asa untuk mengajari anak kita. Jangan pernah mengeluh walau kesulitan kita dapai dan jangan pernah menyerah bila anak kita belum terbiasa. Terus dan terus membimbing agar mereka pun kelak bisa berdoa untuk kita sebagai orang tua ketika tiada.

Dalam.sebuah kisah yang kami alami. Setiap saat kami secara langsung memberikan nasihat dalam berbagai keadaan. Liburan bulan Desember kemarin ada hal yang luar biasa bagi kami. Allah ijinkan kami mendidik anak kami secara langsung.

Pagi itu kami akan mengajari kedua anak gadis untuk belajar mobil. Beberapa kali kami akan memotong jalan dan berjumpa dengan mobil lain yang berpapasan, mereka berhenti memberi jalan kepada kami. Melihat peristiwa langka menurut kami. Bagaimana tidak di jaman sekarang jarang orang mau mengalah untuk orang lain. Dengan tulus dan spontan kami berdoa, "Yaa Rabb... Berikan Rizki orang tersebut." Doa itu kami tujukan kepada orang yang memberi jalan kepada kami.

Peristiwa itu terulang sampai 3 kali di 3 hari secara berturut. Alhamdulillah pada kali ketiga kami menyampaikan doa kepada orang yang tak kami kenal dan tulus Allah berikan rizki yang tak disangka-sangka. Jumlahnya tidak terlalu banyak tapi bagi kami itu karunia. Spontan kami pun sampaikan itulah kekuatan doa. Bila hati bersih dan hanya bersandar kepada Allah maka Allah pun akan berikan apa yang kita doakan pada orang lain dan hal itu juga kita harapkan.

Masih banyak peristiwa yang bisa kita jadikan pelajaran untuk kita sampaikan langsung kepada anak kita. Sehingga internalisasi nilai akan mudah masuk ke dalam jiwa anak kita. Semoga anak kita kelak menjadi pribadi yang tangguh dan pejuang.

Ustadzah Rochma Yulika
By  manis.id

Dimarahi Istri, Khalifah Umar bin Khattab hanya Diam


PADA suatu hari seorang lelaki datang ke rumah Umar bin Khaththab di saat beliau menjabat sebagai khalifah. Adapun maksud kedatangan lelaki itu adalah untuk mengadukan sikap istrinya yang suka marah kepadanya.

Beberapa kali pria itu mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban yang dapat didengar, namun ia masih tetap setia menunggu. Di dalam penantiannya, lelaki itu mendengar suara lantang dari dalam rumah, ternyata suara itu adalah suara istri Umar bin Khaththab yang sedang marah-marah kepadanya dan tidak mau mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulut Umar bin Khaththab.

Mendengar suara kerasnya istri Umar bin Khaththab membuatnya putus asa dan mencoba mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan khalifah. Dalam hatinya ia berkata, “Kedatanganku ini hendak mengadukan sikap istriku, tapi ternyata orang yang kuharapkan dapat memecahkan persoalanku justru mengalami nasib yang sama. Mungkin sebaiknya aku pulang saja.”

Namun belum jauh lelaki itu melangkah kakinya untuk pulang, ternyata Umar bin Khaththab pun segara keluar untuk menemuinya. Tapi lelaki itu sudah meninggalkan rumah Umar bin Khaththab. Lalu Umar pun menengok ke kanan-kiri, dan ternyata lelaki itu masih berada di sekitar rumahnya, lalu dipanggilnya lelaki itu untuk kembali dan ditanyai tentang maksud kedatangannya. Umar bertanya, “Apakah keperluanmu datang ke rumahku?”

Lelaki itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, maksud kedatanganku untuk mengadukan sikap istriku yang selalu marah-marah kepadaku. Namun belum sampai aku mengadu, aku telah mendengar sikap yang serupa dari istrimu, sehingga kuputuskan untuk pulang saja dengan dalih kalau sikap Amirul Mukminin terhadap istrinya seperti itu, kenapa aku tidak berbuat yang sama?”
Umar berkata, “Aku menyabarkan diri atas perlakuan istriku itu sebab aku telah berutang budi kepadanya. Bagaimana tidak, ia telah memasak makananku, menyuci pakaianku, menyusui anak-anakku, menyenangkan hatiku, dan sebagainya, maka aku harus bersabar. Lelaki itu pun berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku juga berbuat demikian.”

Umar pun berujar, “Bagus! Memang harusnya kau kuatkan kesabaranmu! Berapa lama sih kita hidup di dunia ini? Untuk itu mudah-mudahan kita semua, baik lelaki maupun perempuan mendapatkan budi pekerti yang baik. Amin.”

Terkirim satu ayat lanjutan kemarin.

Allah SWT berfirman:

اَلشَّمْسُ وَا لْقَمَرُ بِحُسْبَا نٍ ۙ 
"Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,"
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 5)
Saatnya seorang hamba bersujud dihadapan Allah swt dengan melaksanakan qiyamul lail

●Aamiin Aamiin yaa Robbal'aalamiin
Barokallohu fikum ajmain

Fatwa Empat Mazhab Terkait Bahwa Istri Bukan Pembantu


1. Mazhab Al-Hanafiyah

Al-Kasani dalam kitab Badai'ush-Shanai' menyebutkan hal-hal berikut ini :

Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap (Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai‘).

Masih dalam mazhab yang sama tetapi dalam kitab lainnya yaitu kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah juga disebutkan hal yang senada :

Seandainya seorang istri berkata,"Saya tidak mau masak dan membuat roti", maka istri itu tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santap, atau menyediakan pembantu untuk memasak makanan.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu Al-Kabir menyebutkan :

Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya. (kitab Asy-Syarhul Kabir oleh Ad-Dardir)

3. Mazhab As-Syafi'iyah

Al-Imam Asy-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab menuliskan :

Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta'), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban. . (kitab Al-Muhadzdzab oleh Asy-Syirozi)

4. Al-Hanabilah

Pendapat mazhab Al-Hanabilah pun sejalan dengan mazhab-mazhab lainnya, yaitu bahwa intinya tugas istri bukanlah tugas para pembantu rumah tangga.

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual.

Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.

~~~~~~~~~~

Akad nikah yang terjadi antara mertua dan menantu sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala tugas pembantu. Jumhur ulama sepakat bahwa satu-satunya kewajiban seorang istri dari akad nikah itu semata-mata hanya memberikan pelayanan seksual kepada suami.

Namun seperti yang saya katakan tadi, nyaris semua tulisan para ulama ini ditolak mentah-mentah justru oleh para wanita kita sendiri.


credit : Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1389123555

FOKUS & TULUS


Pertanyaan :
Dokter, saya ingin bertanya;
1. Bagaimana caranya agar hati saya ngga selalu suudzon sama suami saya? Walaupun sebenarnya misalkan suami saya memang suka bertingkah dokter. Saya cuma ingin tenang aja dokter. Bagaimana cara ngobatinnya?

2. Bisakah suami saya langsung jadi suami yang baik dan bertanggung jawab?

Jawaban :

Pahami saja hakikat hidup ini ...

*Pertama*, Setiap kita akan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri2.

Semua akan berlepas tangan untuk masalah orang lain.

Sehingga, apa yang perlu sebagai kebaikan, maka fokus utk menyempurnakannya dan tinggalkan perkara yg tak ada manfaatnya seperti marah ataupun kecewa.

*Kedua*, Allah punya cara berkomunikasi sama Kita.

Bisa melalui *ni'mat* dan karuniaNya yang senantiasa patut Kita *syukuri*.

Setiap kebaikan yang Allah kasih, baik organ tubuh yang masih bisa berfungsi baik, maka syukuri.

Setiap udara yang kita hirup, maka syukuri.

Kenikmatan bisa tidur, maka syukuri.

Kenikmatan bisa ibadah, maka syukuri, dll.

Kenikmatan masih diberi Allah kesempatan melayani hamba-hambaNya yang dititip ke Kita, maka syukuri.

Maka rasa syukur ini akan mendatangkan ni'mat2 Allah lainnya.

Selain itu, Allah berkomunikasi dengan Kita melalui mereka yang terhubung dengan Kita, bisa melalui orang-orang terdekat ataupun jauh, seperti orang tua, pasangan, anak, saudara, tetangga, dan lain-lain.

Sejatinya mereka adalah alat Allah untuk berkomunikasi dengan Kita.

Mereka ini hanyalah alat Allah yang dititip Allah untuk Kita bukan milik Kita ya mba', jadi jangan pernah merasa memiliki.

Kalau mereka bermasalah, maka, yang bisa mengubah mereka adalah Allah, bukan Kita, maka berdoalah yang baik-baik untuk mereka.

Kita tak pernah didesain oleh Allah untuk mengubah mereka.

Tugas Kita sekedar menda'wahi mereka dan melayaninya sebagaimana mereka adalah titipan Allah, tidak lebih dari itu.

Hanya orang-orang yang *merasa memiliki* sehingga berharap banyak pada mereka, padahal mereka bukan *milik* Kita, apalagi mereka bukanlah *Tuhan* yang bisa memberikan apa yang Kita harapkan.

*Hati-hati*, jika sampai hati Kita merasa *ngga nyaman* dengan sikap orang lain, jangan-jangan Kita sudah menduakan Nya (syirik) dengan fokus pada mereka.

Hati Kita sejatinya tenang dengan mengingatNya, bukan dirusak karena lalai dariNya sehingga fokus dengan selain Nya.

Apa yang mesti kita lakukan?

Daripada fokus tentang hal-hal negatif tentang mereka, lebih baik fokuslah pada hal-hal positif atau kelebihan apa yang mereka miliki, termasuk pasangan.

Tentu ada kelebihan-kelebihannya bukan?

Boleh jadi, selama ini kita terlalu fokus dengan kekurangannya, sehingga kekurangannya terlihat menjadi besar, menutupi kebaikan-kebaikannya.

Oleh karena itu fokuslah pada kelebihannya, bersyukur pada Allah karena masih diberikan kelebihan pada diri pasangan, selanjutnya, terima dengan tulus setiap kekurangannya.

Selanjutnya, tetaplah memberikan pelayanan terbaik sepenuh cinta padanya karena Allah, bukan karena cinta diri sendiri sehingga baru membalas melayani jika pasangan memberikan dampak baik.


Sahabat Belajar Anda,

*dr. Ramadhanus, CH., CHt., CT.NNLP., CET.*

ODOJ ADALAH SAHABAT DUNIA AKHIRAT

Testimoni :
Sukmadiarti Perangin-angin

Bukan mudah memulai memaksa diri mengikuti program ODOJ ini bagi saya yang awalnya baru mulai ingin aktif baca Alquran. Biasanya hanya baca beberapa lembar perhari atau kadang tidak baca sama sekali.

Entah apa awal motivasi saya dulu, tapi yang jelas saya ingin beragama dengan lebih baik. Mendekat pada Ilahi dengan jalan yang Ia ridhoi, salah satunya membaca Alquran.

Saat itu saya hamil anak ketiga, kuat keinginan saya untuk mengikuti ODOJ, membiasakannya mendengar kalam Ilahi sejak dalam kandungan. Sekarang, dari kedua kakaknya, saya lihat perbedaan yang cukup signifikan pada si kecil ini, lebih menyejukkan hati orangtuanya 😊

💐💐💐

Godaan pun saya hadapi. Saya pun pernah keluar ODOJ karena kalah dan gagal melawan diri saya sendiri. Kalah melawan malas, malu, dan nafsu diri. Selepas dari ODOJ, saya bukan tambah baik, justru ibadah dan interaksi dengan Alquran semakin menurun. Jika dipikir-pikir, sungguh meruginya saya saat itu, sudah masuk dalam lingkaran kebaikan lalu kemudian keluar.

Sampailah suatu hari saya bertemu dan komunikasi dengan Mba Ana. Saya diajak untuk bergabung kembali. Tentu awalnya saya ragu, takut tidak mampu lagi mengejar target. Tapi kemudian Mba Ana meyajinkan dan terus memotivasi serta memberikan tips-tips bagaimana cara untuk bisa mencapai target baca 1 juz perhari. Akhirnya, Allah Yang Maha Pengasih menuntun saya kembali mendekat padaNya. Alhamdulillah, bersyukur tiada terkira bisa kembali dalam lingkaran kebaikan ini sejak Oktober 2017 kalau tidak salah.

Tidak lama berselang dari itu kebaikan hadir silih berganti dalam hidup saya. Saya merasa mendapatkan peningkatan dalam kapasitas diri saya. Emosi yang lebih stabil. Pola pikir yang semakin baik dan positif. Semangat yang kembali untuk terus belajar, menuntut ilmu, memperbaiki diri, serta berbagi kebaikan.

Di momen itu pula, saya kemudian mendapat jalan mendirikan Komunitas Orangtua Belajar atau grup Parenting School ini. Alhamdulillah sekarang sudah ada 4 grup dan masih aktif sampai saat ini terus berbagi dan sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Berkah lainnya dengan rutin membaca dan berinteraksi dengan Alquran, saya kemudian bisa menulis dan menerbitkan buku, baik solo maupun antologi. Masya Allah. Suatu hal yang bahkan dahulu seperti mustahil bagi saya. Karena dulu pikiran serasa buntu, bahkan untuk menulis status facebook aja bingung ya kan. Sekarang sudah bisa menulis lancar bahkan panjang lebar 🤭

Ya, pikiran kita menjadi jernih dan terus dibersihkan dengan Alquran. Saat diri dan hati kita bersih, pikiran akan jernih, dan mudah mengeluarkan kebaikan-kebaikan juga menularkannya.

Dari segi parenting, tentu juga berubah. Sebagai ibu tentu juga punya sisi emosional menghadapi polah anak, tapi sejak ikut ODOJ, emosi lebih terkendali dalam menghadapi anak-anak, bahkan kemudian bisa menemukan pola pengasuhan dari mengamati perilaku mereka sehari-hari. Yang dulu awalnya stress sekarang justru bisa berbagi cara pengasuhan dan trik menghadapi anak-anak sampai lahir juga buku: Parenting School. Semua pencapaian itu tiada lain karena ijin Allah semata, dan berkah dari rutin membaca Alquran.

💐💐💐

Bunda-Bunda Sholihah
Begitu banyak berkah dari Alquran, semua hal yang berinteraksi dan terlibat dengannya akan menjadi mulia. Malaikat jibril penyampai wahyu, menjadi lebih mulia kedudukannya dibanding malaikat lain. Nabi Muhammad yang mendapat mukjizat Alquran juga lebih mulia kedudukannya di sisi Allah dibanding Nabi lainnya. Bulan di turunkannya Alquran, yakni Ramadhan menjadi bulan yang lebih mulia diantara bulan lainnya. Begitu seterusnya.

Termasuk juga Bunda dan siapa saja yang rutin berinteraksi dengan Alquran, baik membaca, menghafal, memperlajari, mengamalkan dan mengajarkannya, juga akan Allah beri kedudukan yang mulia baik di dunia maupun di akhirat nanti.

PERTANYAANNYA, MAUKAH KITA MENGAMBIL KESEMPATAN ITU? MENJADI ORANG-ORANG YANG AKAN ALLAH MULIAKAN DI DUNIA DAN AKHIRAT DENGAN ALQURAN.

Bismillah
Mohon pada Allah agar hati dilembutkan dan diberi kemudhan untuk terus istiqomah bersama Alquran.

Awali dengan bergabung bersama komunitas ODOJ ini. Bergabung dalam lingkaran kebaikan. Gratis bunda, tidak dipungut bayaran. Di dalamnya kita saling mengingatkan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tiada paksaan di dalamnya. Tapi kitalah yang harus memaksa diri kita untuk LEBIH BAIK.

Kita punya jatah waktu yang sama, 24 jam sehari. Kalau yang lain bisa baca 1juz perhari bahkan lebih, masa iya kita nggak bisa? Kalau belum dicoba tentu belum tahu. Kalau belum usaha maksimal, jangan mudah menyerah.

Seorang motivator pernah berkata:
"KERASLAH PADA DIRIMU
MAKA DUNIA AKAN LEMBUT PADAMU."

Keraslah memaksa diri dalam beribadah maka kebaikan dunia juga akhirat akan kita dapatkan.

Salam Sayang

TIPS AGAR ANAK PATUH PADA ORANG TUA

Bunda-Bunda sholihah

Dahulu, sejak zaman Nabi diutus ke bumi, mereka telah mengemban amanah daqwah, yakni menyeru manusia pada kebaikan dan agar hanya menyembah pada Allah saja.

Allah memberi perintah pada para Nabi untuk menyeru manusia dan umatnya untuk menaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjadi hamba yang bertaqwa.

Para Malaikat sempat bertanya pada Allah, mengapa Allah mengutus manusia sebagai khalifah (pemimpin) ke bumi padahal manusia itu pula yang nantinya akan berbuat kerusakan di bumi.

Allah lalu berfirman, kamu tidak mengetahui apa yang aku ketahui. Keterangan ini berasal dari Al-Quran, surat Al-Baqarah : 30 yang berbunyi:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:

"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."

mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Bukankah Rasulullah saw diutus tidak hanya untuk mengajak manusia menyembah Allah tapi juga untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Untuk berdaqwah pada kaumnya, rasulullah dibekali dengan kebaikan budi pekerti, sampai-sampai ia dijuluki kaumnya sebagai Al-Amin (orang yang dapat dipercaya).

Bahkan Allah menegaskan dalam firmannya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab: 21).

Bunda-Bunda sholihah, belajar dari kisah para Nabi tentu memberi gambaran dan hikmah bagi kita tentang banyak hal.

Pelajaran tentang keimanan pada Allah, kewajiban kita sebagai manusia untuk menjadi khalifah, perintah untuk senantiasa taat pada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya, serta tugas untuk melanjutkan tugas kenabian dengan berdaqwah menyeru manusia kepada jalan kebenaran.

Dalam konteks keluarga/pengasuhan anak, tugas berdaqwah menyeru pada kebaikan jatuh pada orangtua. Orangtua diberikan amanah untuk mengajak anggota keluarganya, termasuk anak-anaknya, untuk menjadi hamba yang bertaqwa dan memiliki akhlak mulia.

Salah satu pelajaran yang bisa kita teladani dari kisah daqwah kenabian adalah Nabi mengajak kaumnya untuk taat dan patuh dengan cara yang penuh kelembutan dan hikmah. Allah juga mempertegas cara ini lewat firman-Nya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 125).

Rasulullah menyampaikan:
“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya”(HR. Abu Dawud, sanad: shahih).

Bersamaan dengan tugas kenabian untuk berdaqwah tersebut, Allah melengkapi mereka dengan ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki malaikat.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:

"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"(31)

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (32)

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini."

Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman:

"Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (33)

Apa tujuan dari penyampaian materi di atas?
Ayah Bunda, bukankah kita sebagai orangtua ingin mengajak anak kita pada kebaikan, mendidik mereka untuk taat pada Tuhan-Nya, melatih mereka sholat, berpuasa, sopan santun sejak kecil. Tentu untuk mewujudkan tujuan itu kita orangtua juga butuh bekal.

Orangtua butuh bekal untuk membuat anak-anaknya patuh pada Tuhan-Nya juga nurut pada orangtua. Orangtua butuh bekal ilmu dan belajar dari para Nabi bagaimana cara mereka mengajak kaumnya pada kebaikan. Membawa kaumnya dari kegelapan kepada jalan yang terang benderang. Itulah hikmah dan pentingnya kita belajar dan mempelajari kisah Nabi dan Rasul, agar banyak hikmah yang bisa kita dapat dan amalkan dalam praktek kehidupan yang dijalani.

Tips berikutnya adalah BERSABAR.
Dalam mengajak anak pada kebaikan tentu juga tidak selalu mudah. Bukan hanya orangtua saja yang mengalami kesulitan, Nabi dan Rasul juga telah lebih dulu dan bahkan mendapati kesulitan yang jauh lebih besar. Allah mengingatkan dalam firmannya:
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34).

Lagi-lagi yang kita temui adalah perintah untuk tetap lembut dan berkasih sayang walau ujian kesabaran kadang tak terelakkan. Beragam tingkah polah anak-anak yang akan kita temui dalam pengasuhan , mereka. Sabar adalah solusi dalam menyikapinya.
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong.”

Bunda-Bunda Sholihah
Maka tips untuk membuat anak patuh pada orangtuanya adalah dengan mengamalkan apa yang para Nabi dan Rasulnya lakukan saat berdaqwah yakni LEMBUT, KASIH SAYANG, DAN HIKMAH.

Jangan sampai dakwah atau kebaikan yang ingin diajarkan orangtua dikotori dengan kekerasan, ketergesa-gesaan, dan akhlak yang buruk pada anaknya, sehingga akan berakibat penolakan atas sebuah kebenaran dan ajakan yang disampaikan.

Dalam sebuah kisah, ketika Rasulullah berdaqwah ke Thaif, beliau mendapat perlakuan tak terduga, tubuhnya dilempari dengan batu hingga beliau terluka. Lihat apa kemudian yang Rasulullah lakukan, bahkan ketika ditawari malaikat Jibril untuk menimpakan dua gunung kepada penduduk thaif, rasul tidak menerimanya. Rasulullah justru MENDOAKAN mereka yang telah mendzaliminya agar kelak ada dari keturunan Thaif orang-orang yang akan taat pada Allah. Masya Allah.
  “Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang mengucapkan (kalimat) Tiada Tuhan selain Allah dari rahim mereka,” jawab Rasulullah saw.

Maka tips berikutnya agar anak patuh pada orangtua adalah dengan senantiasa MENDOAKAN mereka pada kebaikan, termasuk saat orangtua merasa terdzolimi atas perilaku anak-anaknya.

Dalam kisah Thaif tadi, Zaid yang sedang membersamai Rasulullah bertanya, bagaimana mungkin engkau akan kembali pada mereka sedangkan mereka telah mengusirmu, Tanya Zaid pada Rasulullah.
“Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang engkau lihat, sebagai kemudahan dan jalan keluar. Sungguh, Allah akan menolong agama-Nya dan akan memenangkan Nabi-Nya,” sabda Rasullullah Saw.

Ya, Bunda.
Allah akan memenangkan hati orangtua, akan memenangkan Agama-Nya, dan akan memberi kemudahan juga jalan keluar atas segala kesulitan yang dirasakan dalam mengasuh anak-anak.

Maka tips yang terakhir adalah SELALU BERHARAP DAN BERGANTUNG PADA PERTOLONGAN ALLAH SWT.