- Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga -
Assalamu'alaikum.. Wr.wb
Saya Eva dari Jakarta..Ustadz, saya punya saudara wanita. Suaminya itu pola pikirnya masih kurang dewasa pdhal usianya sudah 50 tahunan, dan sifatnya juga tempramental.. Nah bagaimana cara istri mengkomunukasikan hal tsb kepada suaminya agar suaminya bisa berubah? Karena sifat ayah yg kurang dewasa n tempramental juga tidak baik utk perkembangan mental anak. Jazaakallah ustadz
Jawaban :
Waalaikummussalaam wa rahmatullah wabarakaatuh.
Sifat kekanak-kanakan yang dimiliki suami meskipun sudah berumur perlu kita sikapi dengan dewasa. Jangan sampai kita memperlakukan nya seperti anak kecil. Perlu diingat bahwa sebenarnya kita semua ini adalah "anak besar", artinya terkadang sifat kekanak-kanakan itu masih melekat tergantung orangtua dalam mendidik & lingkungan yang membentuk. Yang jelas, menghadapi suami yang kekanak-kanakan kita harus "mengalah" untuk bisa bersikap dewasa, diperlukan kesabaran ekstra dalam menghadapinya. Justru disinilah peran besar istri dalam "merubah" sifat suami. Merubah karakter atau sifat memerlukan proses yang lama & butuh pengorbanan yang lebih. Ada baiknya kita belajar juga psikologi mengahadapi kasus seperti ini.
Beberapa hal yang bisa dilakukan, InsyaAllah :
- Memperlakukan Suami sebagai Orang Dewasa yang Bertanggung Jawab
Pemberitahuan atau perintah yang mengharuskan seseorang untuk merubah perilakunya seringkali menimbulkan suatu reaksi pertahanan dari orang yang diperintah. Orang yang berperilaku kekanak-kanakan, apabila diperintah atau diingatkan supaya ia mau merubah perilakunya menjadi lebih matang, seringkali menyebabkan ia merasa terpukul dengan peringatan itu. Ia merasa diremehkan diberi peringatan seperti itu, sehingga ia melakukan pertahanan untuk melindungi diri. Dalam kaitan inilah seringkali orang yang diberi peringatan secara langsung menunjukkan perilaku menentang yang bisa diwujudkan dalam bentuk jawaban-jawaban: ''Biarkan saya berperilaku begini, karena inilah gaya saya''.
Apabila ia terus diingatkan atau ''diperintah'' untuk merubah perilakunya maka ia akan makin tertantang untuk mempertahankan sikap yang sudah ia pegang, sehingga perubahan perilaku menuju kematangan diri akan lebih sulit dapat diwujudkan. Menghadapi suami yang bertahan dengan gaya anak-anaknya, maka sangat penting melakukan pendekatan secara tidak langsung, dengan memperlakukan dia sebagai orang dewasa. Dalam hal ini kata-kata yang langsung memerintah dia usahakan dihindari, diganti dengan perlakuan yang memposisikan dia sebagai orang dewasa. Apabila dulu berupa peringatan supaya ia mau berpenampilan dewasa, maka sekarang bisa dalam bentuk memposisikan dia sebagai orang dewasa, sebagai ayah dan sebagai kepala keluarga. Perlakuan ini bisa ditunjukkan dalam berbagai kesempatan, pada waktu ada tamu yang datang berkunjung misalnya, perlihatkanlah sikap membanggakan suami. Pada waktu berbincang-bincang dengan tamu hindarilah kata-kata yang meremehkan suami, sehingga tamu mempunyai kesan bahwa suami adalah figur yang dihormati dan disegani di rumah ini. Dengan perlakuan-perlakuan seperti itu, lama-kelamaan suami akan berubah menilai dirinya, ia akan mulai menilai dirinya sebagai figur dewasa yang dihormati oleh anggota keluarga. Perubahan penilaian diri ini selanjutnya akan menggiring perubahan perilaku, apabila semula ia merasa biasa-biasa saja berperilaku seperti anak-anak atau remaja. Dengan perubahan konsep diri ini maka ia merasa tidak pantas lagi berperilaku seperti itu. Lebih-lebih lagi di hadapan tamu, maka dia akan menyesuaikan perilaku yang dia tampilkan dengan harapan lingkungan.
- Tidak Ikut-ikutan Memojokkan Suami
Adakalanya orangtua atau orang-orang di sekitar rumah meremehkan perilaku suami dengan menyebutkan bahwa suami masih kekanak-kanakan. Dalam hal ini janganlah ikut-ikutan terpengaruh dengan penilaian itu dan memojokkan suami dengan menyebutnya sebagai orang yang tidak matang. Belalah suami dengan menyebutkan bahwa suami dalam proses menuju kematangan diri.
- Menjaga Jalinan Komunikasi
Sejalan dengan perlakuan positif terhadap suami maka jalinan komunikasi yang terbuka dengan suami juga tetap dijaga sehingga terbiasa mendiskusikan berbagai permasalahan dengan suami, dan komunikasi dua arah pun akan berkembang. Apabila suami menyampaikan keluhannya tentang perilaku istri, maka istri pun diharapkan mau terbuka menanggapi dan mau menilai informasi itu dengan akal sehat, bukan dengan emosional. Begitu juga sebaliknya suamipun diharapkan berjiwa besar mau mengembangkan komunikasi dua arah, sehingga berbagai ''ganjalan'' dalam hati bisa dicarikan jalan keluarnya sedini mungkin. Dengan berkembangnya komunikasi dua arah maka masing-masing pihak akan mampu mengarahkan perilakunya menuju kematangan atau kedewasaan.
Allahu a'lam.
Jazaakillah khairan atas pertanyaannya.
(Ust. Miftahuddin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar