Tampilkan postingan dengan label sekolah kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah kebidanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2015

Perbedaan D4 Kebidanan dengan S1 Bidan

Mungkin banyak pertanyaan tentang ini, terutama untuk pendidikan bidan yang sekarang ini (masih) ada D4 Kebidanan dan juga S1 Pendidikan Bidan. Terutama bagi yang sudah lulus D3 Kebidanan dan mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Awalnya saya juga bingung dengan keduanya, disini saya ingin mencoba untuk sharing apa yang saya dapat tentang D4 dan S1 ini. Semoga bermanfaat J
Perbedaan yang teramat jelas adalah jenisnya. D3/D4 (Diploma) masuk ke dalam vokasisedangkan S1/S2 (Sarjana) adalah sarjana. “tapi kok lulusannya D4  title nya tetap sarjana?” iya, title nya lulusan D4 adalah sarjana sains terapan (S.SiT) dan aq juga baru tau kalo lulusan D4 lainnya (selain bidan) juga menggunakan title yang sama. Berbeda dengan lulusan S1 yang disesuaikan dengan nama keilmuan yang diambil, misalnya S1 Pendidikan Bidan yang title nya adalah Sarjana Kebidanan (S.Keb) ; S1 Ekonomi yang title nya Sarjana Ekonomi (SE) atau juga S1 Keperawatan yang title nya Sarjana keperawatan (S.Kep), dsb.
Kuliahnya kok lebih lama yang S1 ya?” iya nih lebih lama, kalau transfer dari D3 ke D4 hanya menghabiskan waktu satu tahun dan materi yang diterima adalah sesuai dengan ilmu terapan yang diambil, misalnya D4 pendidik, maka materi yang diterima adalah cara mendidik sedangkan kalau melanjutkan ke S1, rata-rata waktu yang dihabiskan adalah 1,5 tahun (termasuk transfer dari D3 ke S1 Bidan) dan materi yang diajarkan adalah mendalami keilmuan jurusan. FYI, S1 Pendidikan bidan selain mahasiswa mendalami tentang ilmu kebidanan (1,5 tahun ) juga mengikuti profesi, lamanya 1 tahun (kalau di Unair, wajib diambil).
kalau mengambil D4 pendidik Bidan bisa langsung ngajar ya?” Menurut UU no 14 tahun 2005, pendidikan terakhir untuk pengajar adalah S2. Banyak teman saya yang sudah lulus D4 melanjutkan sekolah lagi ke S2 agar bisa menjadi dosen karena kalau masih D4 katanya belum bisa mengajar, tapi kembali lagi ke kebijakan kampus.
yang saya dapat didalam UU no 14 tahun 2005
katanya kalau mau jd dosen harus linier ya? S2 linier itu seperti apa? Kalau sudah terlanjur mengambil D4 bidan, trus lanjutnya kemana?” linier itu yang sejurusan. Kalau sebelumnya mengambil D3 kebidanan, bisa melanjutkan ke D4 atau S1 kebidanan ataupun Kesmas yang Kespro *. Kalo udah punya title Sarjana Sains Terapan? S2 yang diambil (yang linier) adalah S2 sains Terapan. Tenaangg..... udah ada kok di UNDIP. Beda ya S2 Sains Terapan dengan S2 Kebidanan? iya beda. Berarti S2 Kebidanan (UNPAD) dinyatakan linier kalau yang melanjutkan kesana adalah lulusan S1 Kebidanan? yup, seharusnya  seperti itu.
tapi kok bisa D4 masuk S2 Kebidanan di UNPAD?” pertanyaan ini juga muncul dalam pikiran saya. memang bisa tapi (sebenarnya) bukan selinier  dan yang saya lihat juga untuk sekarang masih dianggap selinier, tapi belum tau kedepannya seperti apa, karena pasti selalu ada pembaharuan. Jadi jangan diambil pusing dulu, ikuti saja peraturan yang sekarang alias kalo mau daftar ke S2 Unpad dan keterima disana ya lanjut aja gapapa.
sebaiknya saya lanjut kemana? S1 atau D4 Kebidanan?” kalau ingin lebih aman, lebih baik melanjutkan ke S1 kebidanan (bukan promosi lhoo) karena setau saya, sekarang ini pendidikan D4 di Jawa Timur hanya dibuka untuk lulusan SMA. Jadi ada kemungkinan akan ada perubahan. Walaupun begitu,di daerah selain di Jatim masih membuka pendaftaran untuk transfer dari D3. Itu artinya, masih belum ada larangan untuk melanjutkan pendidikan dari D3 ke D4 Kebidanan.
Kalau ingin tetap masuk D4, saran saya adalah tetap memilih kampus dengan akreditasi yang baik. Usahakan mencari D4 dengan akreditasi (minimal) B.

*untuk Kespro, saya masih belum tau (untuk saat ini) apakah termasuk selinier atau tidak.

Sejarah Bidan

 Sejarah Pendidikan Bidan di Indonesia dari masa ke masa. (Rangkuman dari buku 50 Tahun IBI)
(Pendidikan bidan adalah pendidikan formal dan non formal)

Penjajahan Hindia Belanda1851Dr. W. Bosch
Seorang Dokter Militer Belanda

Bidan Membuka Pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia. Pendidikan ini tidak berlangsung lama karena kurangnya peserta didik yang disebabkan adanya larangan pembatasan bagi wanita untuk keluar rumah.1902 Bidan Dibuka kembali bagi wanita pribumi di RS Militer di Batavia 1904 Bidan Pendidikan bidan bagi wanita Indonesia di buka di Makassar. 1914 Tenaga Keperawatan & Bidan Di CBZ (RSUP) Semarang dan Batavia.
Di terima juga peserta didik wanita pertama dan bagi perawat wanita yang lulus dapat meneruskan kependidikan kebidanan selama 2 tahun.
1935-1938 Pemerintah colonial Belanda Bidan Mulai mendidik bidan lulusan Mulo (Setingkat SLTP bagain B)
Dibuka di beberapa kota besar antara lain Jakarta di RSB Budi Kemulian, RSB Palang Papua, RSB Mardi Waluyo di Semarang.
Penjajahan Jepang Pemerintah mendirikan sekolah perawat atau sekolah bidan dengan nama dan dasar yang berbeda, namun memiliki persyaratan yang sama dengan zaman belanda. Peserta didik kurang berminat dan mereka mendaftar karena terpaksa karena tidak ada pendidikan lain.1950-1953Dibuka sekoalah bidan dari lulusan SMP dengan batasan minimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun.
Dibuka pendidikan pembantu bidan yang disebut Penjenang Kesehatan E (PK/E) atau pembantu bidan, sampai dengan tahun 1976 & setelah itu ditutup. Peserta PKE adalah lulusan SMP ditambah 2 tahun kebidanan dasar. Lulusan dari PKE sebagian besar melanjutkan pendidikan bidan selama 2 tahun.
1953-1967 Kursus Tambahan Bidan (KTB)Diadakan di Yogyakarta, lamanya kursus antara 7-12 minggu.
Tahun 1960 dipindahkan di Jakarta.
Pada tahun 1967 KTB ditutup (Tidak dilanjutkan)
1954 Guru Bidan Dibuka pendidikan guru bidan secara bersama-sama dengan guru keperawatan dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung. 1972 Guru Bidan Institusi pendidikan guru bidan, perawat & perawat kesehatan masyaraka, melebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP).1970BidanDibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari sekolah pengatur perawat (SPR) ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang sebut Sekolah Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK). 1974 Mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah banyak (24 kategori), Departemen Kesehatan melakukan penyederhanaan pendidikan tenaga kesehatan non sarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Namun karena adanya perbedaan falsafah dan kurikulum, maka tujuan pemerintah agar SPK dapat menolong persalinan tidak tercapai atau terbukti gagal.1975-1984Bidan
DITUTUP
Institusi pendidikan bidan ditutup, sehingga selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan. 1985 Bidan
DIBUKA kembali
Dibuka lagi program pendidikan bidan yang disebut (PPB) yang menerima lulusan dari SPR dan SPK. 1989 Crash program pendidikan bidan yang memperbolehkan lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan. Program ini dikenal sebagai Program Pendidikan Bidan A (PPB/A). Lama pendidikan 1 tahun dan lulusannya ditempatakan di desa-desa. 1993 Bidan (Dosen Bidan) Dibuka program pendidikan bidan program B yang peserta didiknya dari lulusan Akper dengan lama pendidikan 1 tahun. Tujuan program ini adalah untuk mempersiapkan tenaga pengajar pada program pendidikan bidan A.
Pendidikan ini hanya berlangsung 2 angkatan kemudian ditutup.
1993 Bidan Dibuka pendidikan bidan Program C (PPB/C) yang menerima siswa dari lulusan SMP. 1994-1995 DJJ (Diklat Jarak Jauh) Pemerintash menyelenggarakan uji coba pendidikan bidan jarak jauh (distance learning), tujuan untuk meningkatkan mutu tenaga kesehatan dalam pelaksanaan mutu pelayanan kesehatan.1996 Pelatihan TOT untuk LSS.IBI bekerja sama dengan Depkes & American College of nurse Midwive (ACNM) dan Rumah Sakit Swasta mengadakan training of trainer kepada anggita IBI sebanyak 8 orang untuk LSS. 2000 Pelatihan APN.Pelatihan APN.